Postingan

Menampilkan postingan dengan label neo-murji-ah

Sesat Pikir & Kebodohan PENDAKU Salafiyy

Gambar
Membaca postingan oknum PENDAKU Salafiyy ini saya langsung tertawa sakit perut… Bagaimana tidak…? Perkataan dari seorang àlim, Imām al-Ḥasan ibn Àliyy al-Barbahāriyy al-Ḥanbaliyy رحمه اللـه تعالى, dijadikannya sebagai "parameter mutlak" untuk menentukan apakah seorang termasuk "ahlus-sunnah" ataukah "ahlul-bidàh". ⚠️ Padahal, perkataan Imām al-Barbahāriyy itu sama sekali BUKAN dalìl. Perkataan itu bisa jadi benar kalau yang didoakan keburukan itu adalah penguasa yang ṣōliḥ, àdil & kompeten. Logikanya, yang mendoakan keburukan bagi penguasa yang demikian jelas adalah pengikut hawa nafsu. Akan tetapi, kalau yang didoakan keburukan itu adalah penguasa yang ṭōliḥ, lalim & inkompeten, maka tentunya tak begitu ceritanya. Sesat itu namanya…! Buktinya di dalam al-Qur-ān surah Yūnus (10) ayat ke-89, Allōh ﷻ mengabadikan doa Nabiyy Mūsā عليه السلام yang mendoakan keburukan bagi Firàun, di mana itu malah menjadi satu-satunya doa bagi penguasa yang diabadikan ...

Salaf Tak Mengkritik Penguasa di Depan Publik?

Gambar
Oknum ini demi melindungi junjungannya, para penguasa lalim, ia mengatakan bahwa mengkritik penguasa di depan publik itu bukanlah aḳlāq dari para Salaf. ❓ Maka pertanyaannya, benarkah pernyataan demikian? Mari kita buka kitāb-kitāb sejarah… 🔵 Ùbādah ibn aṣ-Ṣōmit al-Anṣōriyy رضي اللـه تعالى عنه (komandan satuan pasukan sekaligus Ṣoḥābat Rosūlullōh ﷺ) pernah mengikuti ekspedisi militer di bawah pimpinan Muȁwiyah ke wilayah Byzantium. Di sana, ia melihat orang-orang saling jual-beli potongan emas dengan Dīnār, dan potongan perak dengan Dirham. Maka Ùbadah pun berpidato di depan umum: يا ايها الناس انكم تاكلون الربا سمعت رسول اللـه ﷺ يقول: لاَ تَبْتَاعُوا ٱلذَّهَبَ بِٱلذَّهَبِ إِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ لاَ زِيَادَةَ بَيْنَهُمَا وَلاَ نَظِرَةَ (arti) _“Wahai manusia, kalian ini sedang memakan ribā! Aku mendengar langsung Rosūlullōh ﷺ bersabda: "Janganlah menjual emas dengan emas kecuali sama nilainya, tidak boleh ada tambahan dan tidak boleh ada penundaan serah terima."”_ M...

Mengkritik Korupsi Tak Menunggu Suci

Gambar
Pernyataan opini pada screenshot terlampir sepintas tampak sebagai seruan moral untuk introspeksi. Namun pada hakikatnya, ia mengandung kesesatan berpikir yang bertentangan dengan Manhaj al-Qur-ān & as-Sunnah, yang menjadi alat klasik untuk membungkam kritik terhadap keẓōliman penguasa oleh para ngustad PENDAKU Salafiyy yang beràqīdah Neo Murji-ah. Di mana letak sesatnya? Mari kita bahas… 🔴 Tak harus "menunggu suci" untuk mengkritik – "Tu Quoque Fallacy" Secara logika, pernyataan tersebut adalah bentuk "tu quoque fallacy" (whataboutism), padahal validitas sebuah argumen —dalam hal ini korupsi merusak bangsa & negara— adalah kebenaran objektif yang tidak bergantung pada moralitas orang yang mengucapkannya. Jika syarat untuk melawan kemungkaran adalah "kesempurnaan moral", maka takkan ada ḥukum yang tegak di muka bumi, sebab bukankah Baginda Nabiyy ﷺ mengatakan: "كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ" (arti: setiap anak keturunan Ādam adala...

Muslim Pantang Jadi Ṡaiṭōn Bisu

Gambar
Lagi-lagi si Pudel membuat narasi opini yang sesat & menyesatkan sebab mengandung kerancuan ṡubhāt yang sangat fatal menyamaratakan antara "kritik terhadap kebijakan publik" dengan "celaan terhadap pribadi", sekaligus juga talbīs untuk membungkam amar ma`rūf nahyi munkar dengan dalih "aḳlāq" yang disalahpahami. Mari kita bahas… . 🔴 Strawman Fallacy Si Pudel membangun premis palsu bahwa setiap orang yang mengkritik penguasa adalah orang yang "hobby menjatuhkan kehormatan". Ini adalah kecacatan logika yang parah. Ada perbedaan mendasar antara "menghina fisik / pribadi" (yang dilarang) dengan "mengoreksi keẓōliman / kebijakan" (yang justru diwajibkan!). Mengkritik kebijakan penguasa yang menyengsarakan rakyat atau bertentangan dengan ṡarīàh bukanlah "hobby menjatuhkan kehormatan", melainkan bentuk kepedulian terhadap agama dan nasib kaum Muslimīn. Sederhana saja, jika seorang sopir bus ugal-ugalan dan membahayakan ...

Narasi "Pemimpin Ẓōlim Cerminan Rakyat" = Menyesatkan!

Gambar
Si Pudel lagi-lagi membuat narasi opini menyesatkan dengan mengklaim bahwa pemimpin ẓōlim hanyalah cerminan dosa rakyat. Walau itu terdengar sangat religius karena ditambahkan banyak perkataan ùlamā’, namun secara dalīl, sejarah, dan logika, ia bermasalah besar! Sebenarnya saya telah beberapa kali membuat bantahan terhadap narasi opini model begini, yaitu: 🔗 https://www.facebook.com/share/p/1HSGqD4Vqo/ 🔗 https://www.facebook.com/share/p/1UWuM3Bhdx/ Namun baiklah kita bahas lagi di mana letak masalahnya… ⑴. Kelemahan fondasi dalīl Ḥadīṫ "كَمَا تَكُونُوا يُوَلَّى عَلَيْكُمْ" (arti: sebagaimana keadaan kalian, demikianlah kalian dipimpin) yang diriwayatkan oleh al-Baihaqiyy dan ad-Dailamiyy dinilai ḍoȉf oleh Muḥammad Nāṣiruddīn al-Albāniyy di dalam Silsilah al-Aḥādīṫ aḍ-Ḍoȉfah no 320 di mana Beliau menegaskan kelemahan ḥadīṫ ini secara riwayat dan secara makna ia bertentangan dengan fakta sejarah di mana pemimpin ẓōlim bisa muncul di tengah rakyat yang baik. . ⑵. Ẓōlimnya peng...

Meluruskan Fiqh Mas-ūliyyah

Gambar
Membaca komentar sesengustad gerombolan Neo Murji-ah PENDAKU Salafiyy ini lagi-lagi membuat saya tertawa miris – 🔗 TKP: https://www.facebook.com/share/p/1C1fRFuW2D/ Bagaimana tidak? Narasi yang dibangun bahwa "Presiden takkan ditanya karena ini faktor alam" adalah sebuah "tadlīs ìlmiyy" (pengaburan fakta ìlmiyyah) dan kekeliruan fatal dalam memahami fiqh siyāsah. Mari kita bahas… 🔴 Pertama, sesat pikir dalam definisi mas-ūliyyah (tanggung-jawab) Pertanyaan "apakah Presiden ditanya di Āḳiroh?" tak bisa dijawab secara simplistis hanya dengan menyalahkan curah hujan. Di dalam qōìdah fiqh disebutkan: "المباشر ضامِن وإن لم يتعمد ، والمتسبب لا يضمن إلا بالتعدي" – pelaku langsung menanggung (risiko), sedangkan pihak penyebab menanggung jika ada taàddiyy (pelanggaran / melampaui batas). Presiden memang bukan "al-mubāṡir" (pelaku langsung) yang menurunkan hujan, akan tetapi ia memegang posisi sebagai "al-mutasabbib" (penyebab) melalu...

Kritik Penguasa = Ġībah?

Gambar
Lagi-lagi si Pudel, ngustad gerombolan Neo Murji-ah, membuat kesalahan fatal dalam tulisan opininya karena menyamakan secara mutlak kritik terhadap kebijakan publik dengan ġībah / menggunjing àib pribadi. ❓ Di mana letak salahnya? Mari kita bahas... 🔴 Pertama, keliru dalam memahami definisi ġībah – "Bantahan Poin 1 & 3" Si Pudel mengklaim mengkritik di luar dari di hadapan penguasa adalah ġībah yang ḥarōm. Padahal, para ùlamā’ sepakat bahwa ġībah itu memiliki pengecualian-pengecualian. Al-Imām Yaḥyā ibn Ṡarof an-Nawawiyy رحمه اللـه تعالى di dalam kitāb Riyāḍuṣ-Ṣōliḥīn (Bab al-Ġībah) menegaskan: الغيبة تباح لغرض صحيح شرعي (arti) _“Ġībah itu diperbolehkan untuk tujuan ṡarìyy yang benar yang tidak mungkin tercapai kecuali dengannya.”_ Beliau menyebutkan 6 kondisi ġībah yang dibolehkan, di 3 di antaranya adalah: ⑴. At-Taḥżīr: memperingatkan kaum Muslimīn dari keburukan. ⑵. At-Taẓollum: mengadukan keẓōliman. ⑶. Al-Istiȁnah: meminta bantuan untuk mengubah kemungkaran. ⇛ Kebija...

Rakyat Berdosa Tak Pantas Mengkritik Penguasa?

Gambar
Membaca narasi pada postingan Ngustad Pesbuk dari Gerombolan Neo Murji-ah sebagaimana screenshot terlampir ini sungguh membuat saya tertawa miris. Bagaimana tidak? Narasi itu mengandung cacat logika yang sangat fatal dari sisi Ṡarīàh sekaligus juga sangat manipulatif. Mari kita bahas… . ❌ Pertama, fallacy "pengalihan dosa" & "false equivalence" Logika ini membandingkan hal yang sama sekali tidak apple to apple. Dosa personal rakyat (seperti ġībah atau sū-uẓẓonn) adalah urusan aḳlāq individu, sedangkan keẓōliman penguasa (korupsi, kolusi, ketidakàdilan menetapkan hukum) adalah kejahatan struktural yang berdampak massal. Menjadikan dosa privat rakyat sebagai pembenaran atas keẓōliman penguasa adalah sesat pikir. Jika logika ini dipakai, maka setiap tiran bisa lolos dari tanggung jawab dengan alasan "rakyatnya juga tidak suci". Keẓōliman penguasa itu bersifat objektif — diukur dari kebijakan dan dampaknya terhadap nyawa & kesejahteraan orang b...

Mereka Adalah Neo Murji-ah

Gambar
Pernyataan-pernyataan seperti inilah yang membuktikan bahwa àqīdah kaum PENDAKU Salafiyy itu adalah "murji-ah maàl-hukkām khowārij maàd-duȁt", sebab inilah pola pikir yang diwarisi dari kaum Murji-ah klasik, lalu dibungkus dengan label "Salafiyy", padahal hakikatnya hanyalah manhaj penjilat penguasa. Dulu nenek-moyang ideologis mereka mengusung perkataan: لا يضر مع الإيمان معصية كما لا ينفع مع الكفر طاعة (arti) _“Tidak membahayakan bagi keīmānan itu kema`ṣiyatan, sebagaimana tidak bermanfaat bagi kekufuran itu ketaatan.”_ Neo Murji-ah menjadikan ketaatan mutlak kepada penguasa itu sebagai pokok àqīdah, lalu mereka mengatakan itulah àqīdah Salafuṣ-Ṣōlih. Sungguh mereka telah BERDUSTA karena Salafuṣ-Ṣōlih tidak pernah menjadikan semua penguasa atau lembaga negara sebagai ulil-amr yang wajib ditaati tanpa boleh dikritik, meski jelas-jelas ẓōlim dan korup. Di dalam àqīdah Salafuṣ-Ṣōlih dan Aḥlus-Sunnah wal-Jamāàh, ulil-amr adalah penguasa yang benar-benar menegakkan Ṡar...

Pemimpin Bukan Cerminan Rakyat, Justru Rakyat Cerminan Pemimpin

Gambar
Narasi Pergedel bahwa "Kalau pemimpin rusak, itu karena rakyatnya rusak sebab pemimpin itu hanya cerminan rakyatnya" adalah narasi rusak yang sudah basi namun terus diulang-ulang. Kalimat itu sekilas terdengar bijak, tapi sejatinya adalah logika terbalik yang sengaja dimainkan untuk menutupi kejahatan para élite. ⚠ Padahal faktanya, rakyat justru meniru para pemimpin & élite, bukan sebaliknya. Pemimpin adalah yang memberi contoh, sebab rakyat tidak memiliki kuasa membuat aturan, menegakkan hukum, atau membagikan teladan. Yang mereka lihat setiap hari adalah bagaimana pemimpin hidup, bagaimana bejatbad mengelola amanah, bagaimana ùlamā’ bicara di hadapan penguasa. Kalau pemimpin amanah, jujur, transparan, dan àdil, maka rakyat pun akan belajar untuk jujur. Sebaliknya kalau pemimpin rakus, culas, dan memperlakukan jabatan sebagai ladang merampok, jangan salahkan rakyat bila ikut meniru. Kerusakan itu turunnya adalah dari atas. 📌 Kata Baginda Nabiyy ﷺ di dalam sabdanya: صِ...

Igauan Geopolitik Sang Duktuur

Gambar
Membaca analisa sesengustad yang katanya duktuur lulusan Madīnah ini asli saya ketawa sakit perut. Alih-alih menjelaskan kepada àwāmm tentang apa yang terjadi, oknum duktur ini malahan mempertontonkan kekuperan dan keminiman literasinya sebab dengan sotoy asbun berbicara perkara geopolitik Timur Tengah. ❓ Bagaimana tidak…? Yuk mari kita bahas… 1️⃣ Katanya si Duktuur, "Konflik yang terjadi hanyalah "uji coba senjata" antara Iran dengan Isra-Hell". ✅ Faktanya: ▪️ Isra-Hell telah meluncurkan lebih dari 200 sorties jet tempur ke Iran*¹. ▪️ Iran telah meluncurkan lebih dari 400 rudal (termasuk rudal hypersonic & balistik) ke Isra-Hell*². Tahukah si Duktuur kalau ongkos operasional "Iron Dome"nya Isra-Hell itu semalamnya saja mencapai USD 285juta, sedangkan satu rudal Arrow-nya hargnya USD 3juta*³? Sekarang logis sajalah, apakah pernah ada gitu "uji coba senjata" itu yang sampai ratusan unit dan berlangsung berhari-hari? Memangnya murah gitu harga ...

Ketika Ruwaibiḍoh Bicara Geopolitik & Strategi Perang

Gambar
Ada yang japri ke saya tentang fatwa ngustad Pergedel Sotoy ini, dan begitu membacanya saya langsung mules melihat kebodohannya itu dipamerkan ke publik… Bagaimana tidak, oknum Pergedel ini sama sekali tidak punya basic info bagaimana mapping Palestinian politics namun dia nekad menulis-nulis tentangnya…!?! Okay, tak perlau berlama-lama, mari langsung bahas kebodohannya si Pergedel Sotoy itu dengan menampilkan fakta: … ①. Oknum Pergedel Sotoy itu melakukan kesalahan fatal, yaitu berpikir bahwa ùlamā’ itu hanyalah terbatas pada ùlamā’-ùlamā’ Neo Murji-ah sesembahannya saja, sedangkan di Ġazzah tidak ada ùlamā’. Alangkah picik dan dungunya. … ②. Si Pergedel Sotoy itu menulis tentang Palestina (Filasṭīn) ya, bukan Ġazzah semata, padahal -unfortunately- wilayah Palestina itu sekarang tinggal 2 bagian, yaitu: "West Bank" (Tepi Barat) dan Ġazzah Strip (Jalur Ġazzah. ⒜. West Bank (Tepi Barat) yang dipimpin oleh Palestinian Authority (PA) -sorry to say- yang presidennya adalah si Maḥ...