Muslim Pantang Jadi Ṡaiṭōn Bisu

Lagi-lagi si Pudel membuat narasi opini yang sesat & menyesatkan sebab mengandung kerancuan ṡubhāt yang sangat fatal menyamaratakan antara "kritik terhadap kebijakan publik" dengan "celaan terhadap pribadi", sekaligus juga talbīs untuk membungkam amar ma`rūf nahyi munkar dengan dalih "aḳlāq" yang disalahpahami.


Mari kita bahas…

.

🔴 Strawman Fallacy

Si Pudel membangun premis palsu bahwa setiap orang yang mengkritik penguasa adalah orang yang "hobby menjatuhkan kehormatan". Ini adalah kecacatan logika yang parah.

Ada perbedaan mendasar antara "menghina fisik / pribadi" (yang dilarang) dengan "mengoreksi keẓōliman / kebijakan" (yang justru diwajibkan!). Mengkritik kebijakan penguasa yang menyengsarakan rakyat atau bertentangan dengan ṡarīàh bukanlah "hobby menjatuhkan kehormatan", melainkan bentuk kepedulian terhadap agama dan nasib kaum Muslimīn.

Sederhana saja, jika seorang sopir bus ugal-ugalan dan membahayakan nyawa, maka apakah penumpang yang berteriak mengingatkan sopir itu layak disebut "hobby menghina sopir" sedangkan penumpang yang diam membiarkan adalah penumpang yang baik?

.

🔴 Dalīl larangan menjadi "Ṡaiṭōn Bisu"

Islām tak mengajarkan ummatnya untuk menjadi "Ṡaiṭōn Bisu" yang diam melihat kemungkaran, sekalipun pelakunya adalah penguasa.

Ada kewajiban amar ma`rūf nahyi munkar sebagaimana perintah Allōh ﷻ:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّـهِ

(arti) _“Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan berīmān kepada Allōh.”_ [QS Āli Ìmrōn (3) ayat 110].

Baginda Nabiyy ﷺ bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ ٱلْإِيمَانِ

(arti) _“Siapa saja di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya īmān.”_ [HR Muslim no 49].

Sehingga jika penguasa melakukan kesalahan yang berdampak pada publik, maka koreksi lisan adalah ṡarīàh, BUKAN ġībah apalagi penghinaan.

Bahkan kritik kepada penguasa yang lalim disebutkan oleh Baginda Nabiyy ﷺ adalah sebaik-baik jihād, hingga orang yang berdiri di hadapan penguasa lalim lalu memerintahkannya berbuat ma`rūf dan melarangnya dari kemungkaran lalu ia dibunuh karenanya disebutkan oleh Baginda Nabiyy ﷺ sebagai pemimpin para ṡuhadā’ [lihat: HR al-Ḥākim, al‑Mustadrok no 4884; Ibnu Ḥibbān, al‑Majrūḥīn I/186 ~ dinyatakan ḥasan oleh Muḥammad Nāṣiruddīn al-Albāniyy, Ṣoḥīḥ al‑Jāmi` no 3675].

Para Ṣoḥābat dan ùlamā’ terdahulu tak pernah "baper" ketika dikritik, dan tak pernah menganggap kritik sebagai upaya menjatuhkan kehormatan.

Ketika sebaik-baik ummat Baginda Nabiyy ﷺ, Ṡaiḳul-Islām terbesar, Ḳolīfah Rosūlullōh Pertama, Abū Bakr aṣ-Ṣiddīq رضي اللـه تعالى عنه diangkat menjadi Ḳolīfah, Beliau berpidato:

أما بعد أيها الناس فإني قد وليت عليكم ولست بخيركم ، فإن أحسنت فأعينوني ، وإن أسأت فقوموني

(arti) _“Ammā ba’du, wahai sekalian manusia, sungguh aku telah diangkat untuk memimpin kalian, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, maka tolonglah aku. Jika aku berbuat buruk (salah), maka luruskanlah aku!”_

Beliau menggunakan kata "qowwimunī" (luruskanlah aku), sebuah perintah tegas kepada rakyatnya untuk tak diam jika melihat Beliau salah.

Ketika Ùmar al-Faruq رضي اللـه تعالى عنه membatasi mahar perempuan lalu ia dikritik oleh seorang perempuan biasa dengan menukil dalīl al-Qur-ān, Ùmar tak menangkap perempuan itu atas tuduhan "pencemaran nama baik penguasa", tapi Beliau justru berkata:

أصابت امرأة وأخطأ عمر

(arti) _“Perempuan ini benar dan Ùmar salah!”

Ketika Imām Aḥmad ibn Ḥanbal رحمه اللـه تعالى (dalam kasus miḥnah) diminta untuk diam atau berpura-pura setuju dengan penguasa yang lalim demi "menjaga kehormatan", maka Beliau berkata:

إذا أجاب العالم تقية والجاهل يجهل ، فمتى يتبين الحق ؟

(arti) _“Jika seorang ùlamā’ menjawab (menyimpang) karena taqiyyah (berdusta karena takut), sementara orang bodoh itu tidak tahu, maka kapan kebenaran akan tampak?”_

Imām Yaḥyā ibn Ṡarof an-Nawawiyy رحمه اللـه تعالى menjelaskan bahwa nasehat kepada penguasa itu termasuk juga mengingatkan kelalaian mereka, bukan hanya menyarankan kebaikan:

ومعاونتهم على الحق ... وتنبيههم وتذكيرهم برفق ولطف ، وإعلامهم بما غفلوا عنه ...

(arti) _“… mengingatkan dan menasehati mereka dengan lemah lembut, serta memberitahu mereka tentang apa yang mereka lalaikan …”

.

🔴 Logical fallacy "Ngomong-ngomong, kapan berubah, apa nunggu kematian datang?"

Maka jawaban kita, kaum Muslimīn, adalah:

‼️ Kami MENOLAK untuk menjadi Setan Bisu karena kami takut kematian datang pada saat kami sedang mendiamkan kemungkaran. Kami takut menghadap Allōh dalam keadaan membiarkan agama-Nya dipermainkan dan ummat diẓōlimi hanya karena alasan "menjaga perasaan" penguasa yang lalim.

Junjungan kami, Baginda Nabiyy ﷺ, berpesan:

... وَقُلِ ٱلْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا …

(arti) _“… dan katakanlah kebenaran, meskipun itu pahit …” [HR Aḥmad no. 21415, Ibnu Hibbān no 361].

Beliau ﷺ juga berpesan bahwa "kepahitan" mengatakan kebenaran itu takkan mendekatkan seseorang dengan kematian ataupun menjauhkannya dari rezeki:

أَلَا لَا يَمْنَعَنَّ أَحَدَكُمْ رَهْبَةُ ٱلنَّاسِ أَنْ يَقُولَ بِحَقٍّ إِذَا رَآهُ أَوْ شَهِدَهُ ، فَإِنَّهُ لَا يُقَرِّبُ مِنْ أَجَلٍ ، وَلَا يُبَاعِدُ مِنْ رِزْقٍ ، أَنْ يَقُولَ بِحَقٍّ أَوْ يُذَكِّرَ بِعَظِيمٍ

(arti) _“Janganlah rasa takut kepada manusia menghalangi seseorang dari mengatakan kebenaran jika ia melihat atau menyaksikannya. Karena sungguh mengatakan kebenaran atau mengingatkan perkara yang agung takkan mendekatkan kematian (ajal) dan takkan menjauhkan rezeki.”_ [HR Aḥmad no 11474; Ibnu Kaṫir, Tafsīr al-Qur-ān al-Àẓīm (penjelasan surah al-Mā-idah ayat 54)].

Demikian, semoga dapat dipahami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!

Selektif Dalam Mencari Guru – Sebuah Tinjauan

Membeli Karena Kasihan?