Postingan

Menampilkan postingan dengan label kritik

Salaf Tak Mengkritik Penguasa di Depan Publik?

Gambar
Oknum ini demi melindungi junjungannya, para penguasa lalim, ia mengatakan bahwa mengkritik penguasa di depan publik itu bukanlah aḳlāq dari para Salaf. ❓ Maka pertanyaannya, benarkah pernyataan demikian? Mari kita buka kitāb-kitāb sejarah… 🔵 Ùbādah ibn aṣ-Ṣōmit al-Anṣōriyy رضي اللـه تعالى عنه (komandan satuan pasukan sekaligus Ṣoḥābat Rosūlullōh ﷺ) pernah mengikuti ekspedisi militer di bawah pimpinan Muȁwiyah ke wilayah Byzantium. Di sana, ia melihat orang-orang saling jual-beli potongan emas dengan Dīnār, dan potongan perak dengan Dirham. Maka Ùbadah pun berpidato di depan umum: يا ايها الناس انكم تاكلون الربا سمعت رسول اللـه ﷺ يقول: لاَ تَبْتَاعُوا ٱلذَّهَبَ بِٱلذَّهَبِ إِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ لاَ زِيَادَةَ بَيْنَهُمَا وَلاَ نَظِرَةَ (arti) _“Wahai manusia, kalian ini sedang memakan ribā! Aku mendengar langsung Rosūlullōh ﷺ bersabda: "Janganlah menjual emas dengan emas kecuali sama nilainya, tidak boleh ada tambahan dan tidak boleh ada penundaan serah terima."”_ M...

Muslim Pantang Jadi Ṡaiṭōn Bisu

Gambar
Lagi-lagi si Pudel membuat narasi opini yang sesat & menyesatkan sebab mengandung kerancuan ṡubhāt yang sangat fatal menyamaratakan antara "kritik terhadap kebijakan publik" dengan "celaan terhadap pribadi", sekaligus juga talbīs untuk membungkam amar ma`rūf nahyi munkar dengan dalih "aḳlāq" yang disalahpahami. Mari kita bahas… . 🔴 Strawman Fallacy Si Pudel membangun premis palsu bahwa setiap orang yang mengkritik penguasa adalah orang yang "hobby menjatuhkan kehormatan". Ini adalah kecacatan logika yang parah. Ada perbedaan mendasar antara "menghina fisik / pribadi" (yang dilarang) dengan "mengoreksi keẓōliman / kebijakan" (yang justru diwajibkan!). Mengkritik kebijakan penguasa yang menyengsarakan rakyat atau bertentangan dengan ṡarīàh bukanlah "hobby menjatuhkan kehormatan", melainkan bentuk kepedulian terhadap agama dan nasib kaum Muslimīn. Sederhana saja, jika seorang sopir bus ugal-ugalan dan membahayakan ...

Manajemen Negara Berbasis "Kira-kira"

Gambar
Pernyataan "Saya kira rakyat masih tegar... saya disambut dengan sangat baik" asli membuat saya ternganga… Bagaimana tidak? Ini adalah sinyal masalah serius dalam tata kelola krisis di level tertinggi negara. Rakyat tegar atau tidak, sabar atau tidak, itu bukanlah objek tafsir perasaan, melainkan fakta sosial yang wajib dibaca dari angka & data. Ada empat kegagalan fatal dalam logika "saya kira" ini: ❌ Pertama, penguasa itu bukan pengamat perasaan – "Data vs Asumsi" Frasa "saya kira" adalah bahasa pengamat / komentator politik, bukan bahasa seorang pengelola negara. Seorang penguasa dalam negara modern tak digaji untuk menebak-nebak perasaan rakyat, akan tetapi wajib memastikan kondisi mereka. Pemerintah bekerja memakai angka & data dalam membuat kebijakan, bukan impresi kunjungan singkat. Dalam konteks pasca bencana, ketegaran rakyat memiliki indikator konkret, semisal: daya beli, ketersediaan pangan, sanitasi, hunian layak, dan akses te...

Logika Ekonomi Tak Boleh Membatalkan Ṡarīàh!

Gambar
Si Mantreee ini mengangkat wacana agar penyembelihan hewan dam bagi jamāàh ḥajji IDN dilakukan di Tanah Air dengan alasan "menyelamatkan devisa IDR 1trilyun" dan "agar dagingnya dinikmati rakyat sendiri" terdengar secara façade heroik & nasionalis. Namun, jika dibedah dengan pisau ìlmu fiqh dan logika ìbādah, usulan ini CACAT secara fundamental dan jelas MERUSAK keabsahan ìbādah hajji jamāàh IDN sehingga WAJIB kita tolak & tentang. Mari kita bahas kenapa… ❌ Pertama: melanggar naṣṣ al-Qur-ān dan ijmā` ùlamā’ kaum Muslimīn Jamāàh ḥajji IDN itu melaksanakan manasik ḥajji secara tamattu` (ùmroh dulu baru ḥajji), yang mana Ṡarīàh menetapkan kewajiban membayar "dam nusuk" sebagai sembelihan (hady) ìbādah (bukan denda). Ṡarīàh menetapkan tempat penyembelihan hady secara spesifik, yaitu di: Tanah Ḥarōm Makkah. 📌 Kata Allōh ﷻ di dalam firman-Nya: فَمَا ٱسۡتَيۡسَرَ مِنَ ٱلۡهَدۡىِ (arti) _“Maka sembelihlah hady yang mudah didapat.”_ [...

Kehebohan Bandara PIMI

Gambar
Ribut-ribut Bandara PIMI yang dituduhkan total kepada Sarimin sebenarnya tidak tepat. Kenapa…? Cobalah pelajari dulu, itu PIMI mulai beroperasi di April 2015, di mana pendirian / kesepakatan awalnya adalah di Oktober 2013 (penandatanganan pendirian kawasan terpadu) sementara pembangunannya sudah dimulai dari Juli 2013 (tiang pancang pembangunan pabrik pemurnian nikel pertama, PT SMI). Kemudian diresmikan di Mei 2015 oleh Sarimin. Intinya, proyek ini sudah berjalan, ditandatangani, dan dibangun jauh sebelum Sarimin masuk ke panggung Nasional. BTW, di 2013 itu siapa pretsindennya ketika itu…? Ya Si leBaY lah… Adapun soal bandara PIMI yang diributkan itu, makanya video-video yang katanya "bukti" kalau Sarimin meresmikannya, maka kalau kita perhatikan dengan seksama semua cuplikan yang dijadikan "bukti" sebenarnya tak merekam Bandara PIMI sama sekali: ❌ Background dari video yang katanya Sarimin meresmikan Bandara PIMI, maka itu adalah Bandara M di North M, bukan Banda...

Beda Peran, Beda Tugas

Gambar
Membaca postingan terlampir ini sungguh itu adalah bentuk logika serampangan yang didasari oleh kebodohan prosedural yang hanya dilontarkan oleh orang beràqal lemah yang malas berpikir. Iya, bagaimana tidak? TNI dan PolRI itu memang punya mandat struktural: mereka adalah Aparat Negara yang digaji oleh Negara. Mereka memiliki komando, perlengkapan, serta kewajiban formal untuk turun ketika bencana terjadi. Ketika mereka turun dalam SAR dan mitigasi bencana, maka itu adalah tugas kedinasan, bukan aksi moral tambahan. Mereka menjalankan apa yang memang sudah menjadi kontrak profesionalnya — bukan kemurahan hati ekstra yang layak dijadikan bahan propaganda politik. Adapun membandingkan peran terstruktur aparat dengan mahasiswa yang tidak punya sumber daya, tidak punya pelatihan SAR, dan bahkan tidak punya kewajiban formal, jelas tidak logis dan tidak setara. Mahasiswa turun ke jalan adalah bagian dari fungsi sosial mereka sebagai civil society, bukan unit SAR. Mereka mengawasi kekuasaan, m...

Sawit = Tanaman Juga?

Gambar
☠ Ada yang ASBUN bilang kalau sawit = tanaman juga sehingga tidak masalah melakukan deforestasi. Saya langsung tak habis pikir, untuk seseorang yang digadang-gadang sangat cerdas, namun bicara sesuatu yang anak IPB tahun pertama juga tahu kalau: ⑴. Banyak kebun sawit (terutama yang illegal) dibuka dengan cara membakar hutan, kemudian mencangkul sedikit untuk tanam bibit. Pembakaran lahan itu mengakibatkan unsur organik tanah hilang dan tanah jadi hidrofobik (anti-air) setelah kebakaran hebat. Sehingga ketika hujan deras air tak lagi diserap → air langsung lari di permukaan → banjir. ⑵. Hutan hujan tropis itu punya akar kompleks (bertingkat), tanah yang kaya humus, lapisan serasah tebal, dan struktur tanah yang menyerap air seperti spons. Adapun ketika hutan dibabat jadi kebun sawit, maka lapisan tanah hilang, akar besar hilang, serasah hancur, pori tanah rusak. Akibatnya jelas: air hujan tak lagi meresap → air langsung mengalir cepat ke sungai → debit puncak naik → banjir. ⑶. Sec...