Postingan

Menampilkan postingan dengan label feminist

Hijab

Seminggu ini, negeri ini diributkan dengan 2 issue bertolak-belakang 180°. Di sisi kanan, ada beberapa mahasiswi institusi pendidikan tinggi Islâm plat merah yang hendak di-DO oleh pihak rektorat karena tak mau "dibina" agar membuka niqobnya selama perkuliahan. Di sisi kiri, ada artis perempuan yang berdemo membela haknya agar bisa seminim mungkin berpakaian di muka umum. Supaya adil, saya cover both sides… dan ini –disclaimer– adalah pandangan pribadi saya. . . ⭕ Hak Berniqob Sependek pengetahuan saya, saya mengambil pendapat ‘ulamâ’ yang menyatakan bahwa niqob itu bukanlah wajib, tapi ia adalah kemuliaan. Buktinya, ketika sholât dan thowâf tidak boleh berniqob. Perempuan yang berniqob, adalah perempuan yang berusaha menjaga kemuliaan dirinya. Apa alasannya tak boleh berniqob? Security reason? Security apa? Apa takut ujian ybs pakai joki? Kalau iya, ya tinggal buat saja aturan kalau ujian tak boleh berniqob, atau ...

AILA vs Feminist

Seorang teman yang menghadiri sidang Uji Material (Judicial Review) oleh AILA di MK menceritakan bagaimana oposisi AILA, yaitu kelompok Feminist yang kebablasan begitu menggelora membela dalam “kebebasan seksual” (baca: perzinaan) bahkan LaGiBeTe atas nama “kebebasan”… Idenya mereka, kaum Feminist yang kebablasan itu, adalah hubungan bahwa hetero seksual antara laki-laki dengan perempuan yang terikat dalam lembaga perkawinan itu adalah suatu bentuk penjajahan…! نَعُوْذُبِاللهِ مِنْ ذَلِكَ Itulah mengapa mereka sangat anti hubungan seks di luar nikah menjadi delik pidana dengan ancaman hukuman penjara. Terus terang, saya langsung teringat akan hadîts-hadîts mulia berikut ini… 📌 Rosûlullôh صلى الله عليه...