Postingan

Menampilkan postingan dengan label adab

Perkenalkan Dirimu…!

Gambar
Salah satu adab ketika berinteraksi khususnya dalam berda’wah itu adalah memperkenalkan diri. Ingatkan kisah Nabī Mūsā عليه السلام yang bercakap-cakap dengan Allōh ﷻ‎? Maka lihatlah betapa Allōh, robbul-ȁlamīn robbus-samāwāti wal-arḍi wa bainahumā, memperkenalkan diri-Nya: إِنَّنِي أَنَا اللهَ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (arti) _“Sungguh-sungguh Aku ini adalah Allōh, tiada sesembahan yang berhak diìbādahi dengan benar selain dari Aku, maka ìbādahilah Aku dan dirikanlah ṣolāt untuk mengingat-Ku.”_ [QS Ṭō-Hā (20) ayat 14]. يَا مُوسَىٰ إِنَّهُ أَنَا اللهَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (arti) _“(Allōh berfirman) Wahai Mūsā, sungguh-sungguh Aku adalah Allōh, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”_ [QS an-Naml (27) ayat 9]. فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِن شَاطِئِ الْوَادِ الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَن يَا مُوسَىٰ إِنِّي أَنَا اللهَ رَبُّ الْعَالَمِينَ (arti) _“Maka tatkala Mūsā sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (ar...

Sorry Kalau Merasa

Gambar
Ada 3 hal yang saya tak suka dari cara kebanyakan orang Endonesah ini kalau salah lalu mereka meminta ma'af, yaitu: Pertama: kata yang digunakan itu adalah "sorry" atau "àfwān". Kedua: ketika menerangkan sebab itu kalimatnya suka sekali memakai kata "kalau". Ketiga: menggunakan kata "merasa". Jadi saat meminta ma'af itu, mereka kira-kira mengatakan begini: "Sorry, kalau perbuatan saya membuatmu merasa marah / tersinggung / resah." Permintaan ma'af begini ini menurut saya bukanlah permintaan ma'af yang baik, karena terkesan "sombong" dan tak sincere (tulus) ya…? Bagaimana tidak…? Menggunakan kata "sorry" itu saja menurut saya sudah mengurangi bobotnya. Well, English or Àrabic is NOT your mother's tongue kan? Jadi katakan "ma'af", BUKAN "sorry" atau "àfwān". Kemudian penggunaan kata "kalau" lalu ditambah "merasa". Itu kondisional sekali kan ya? J...

Kasar Kepada Penuntut ‘Ilmu itu OK???

Gambar
Perhatikan screenshots di bawah ini, beginilah ngustad-ngustad GPK Kokohiyyun berfatwa membenarkan kekasaran lisan dan buruknya adab mereka dalam menyampaikan ‘ilmu. ☠ Mereka mengangkat perkataan Sufyân ibn ‘Uyainah رحمه الله ketika dikatakan: "Banyak orang yang datang kepada anda dari berbagai penjuru Dunia, namun anda malah menyakiti mereka sehingga hampir-hampir saja mereka pergi meninggalkan (majelis) anda?", lalu dijawab: "Kalau begitu, mereka bodoh seperti anda karena meninggalkan sesuatu yang memberikan manfaat untuk mereka (‘ilmu agama) hanya karena tidak baiknya perangai saya!" Begini… ❗ Adalah jelas-jelas perkataan manusia itu tidak muthlaq, karena perkataan siapapun juga, itu bisa ditolak dan bisa diterima, tergantung apakah ia mencocoki kebenaran (yaitu al-Qur-ân dan as-Sunnah) atau tidak? 📍 Kata al-Imâm Mâlik ibn Anas رحمه ا...