Postingan

Menampilkan postingan dengan label aqidah

Pemimpin Bukan Cerminan Rakyat, Justru Rakyat Cerminan Pemimpin

Gambar
Narasi Pergedel bahwa "Kalau pemimpin rusak, itu karena rakyatnya rusak sebab pemimpin itu hanya cerminan rakyatnya" adalah narasi rusak yang sudah basi namun terus diulang-ulang. Kalimat itu sekilas terdengar bijak, tapi sejatinya adalah logika terbalik yang sengaja dimainkan untuk menutupi kejahatan para élite. ⚠ Padahal faktanya, rakyat justru meniru para pemimpin & élite, bukan sebaliknya. Pemimpin adalah yang memberi contoh, sebab rakyat tidak memiliki kuasa membuat aturan, menegakkan hukum, atau membagikan teladan. Yang mereka lihat setiap hari adalah bagaimana pemimpin hidup, bagaimana bejatbad mengelola amanah, bagaimana ùlamā’ bicara di hadapan penguasa. Kalau pemimpin amanah, jujur, transparan, dan àdil, maka rakyat pun akan belajar untuk jujur. Sebaliknya kalau pemimpin rakus, culas, dan memperlakukan jabatan sebagai ladang merampok, jangan salahkan rakyat bila ikut meniru. Kerusakan itu turunnya adalah dari atas. 📌 Kata Baginda Nabiyy ﷺ di dalam sabdanya: صِ...

Perjuangan Itu Dasarnya Adalah Harapan

Gambar
Adalah Curt Paul Richter -seorang Psychobiologist dari Amrik keturunan dari imigran Jerman- yang pertama kali meneliti korelasi antara perjuangan dan harapan. Richter yang awalnya kuliah di Technische Hochschule (Jerman) namun karena keluarganya pindah ke Amrik setelah pecahnya Perang Dunia I, mencoba melanjutkan di Harvard di mana ia belajar Biologi di bawah William E Castle, namun karena kekurangpengalamannya Castle lantas menyarankan Richter pindah ke bidang Psikologi di bawah EB Holt dan Robert Yerkes. Richter lulus dari Harvard pada tahun 1917 dan melanjutkan studi Psikologinya di Johns Hopkins University di bawah John Watson. Pada tahun 1950-an, Richter melakukan eksperimen yang mungkin terlihat sangat kejam dengan tikus jinak dan tikus liar. Richter mengambil selusin tikus jinak, memasukkannya ke dalam toples yang diisi air setengah penuh, dan mengamati tikus-tikus itu tenggelam. Tujuannya adalah untuk mengukur berapa lama mereka berenang sebelum menyerah lalu tenggelam. Tikus p...

Ketika Ruwaibiḍoh Bicara Geopolitik & Strategi Perang

Gambar
Ada yang japri ke saya tentang fatwa ngustad Pergedel Sotoy ini, dan begitu membacanya saya langsung mules melihat kebodohannya itu dipamerkan ke publik… Bagaimana tidak, oknum Pergedel ini sama sekali tidak punya basic info bagaimana mapping Palestinian politics namun dia nekad menulis-nulis tentangnya…!?! Okay, tak perlau berlama-lama, mari langsung bahas kebodohannya si Pergedel Sotoy itu dengan menampilkan fakta: … ①. Oknum Pergedel Sotoy itu melakukan kesalahan fatal, yaitu berpikir bahwa ùlamā’ itu hanyalah terbatas pada ùlamā’-ùlamā’ Neo Murji-ah sesembahannya saja, sedangkan di Ġazzah tidak ada ùlamā’. Alangkah picik dan dungunya. … ②. Si Pergedel Sotoy itu menulis tentang Palestina (Filasṭīn) ya, bukan Ġazzah semata, padahal -unfortunately- wilayah Palestina itu sekarang tinggal 2 bagian, yaitu: "West Bank" (Tepi Barat) dan Ġazzah Strip (Jalur Ġazzah. ⒜. West Bank (Tepi Barat) yang dipimpin oleh Palestinian Authority (PA) -sorry to say- yang presidennya adalah si Maḥ...