Postingan

Menampilkan postingan dengan label maulid

Qiyās Maulid - Zakāt Rupiah / Beras

Gambar
Berlalu lagi logical fallacy yang mengqiyāskan perayaan hari ulang tahun Nabī dengan Zakāt Māl memakai rupiah atau Zakāt Fiṭroh memakai beras. – lihat screenshot terlampir Memang tak ada dalīl bahwa Baginda Nabī ﷺ‎ mengeluarkan Zakāt Māl dengan Rupiah atau Zakāt Fiṭroh memakai beras, sebab memang tak ada orang Àrab pada zaman itu mengenal yang namanya mata uang Rupiah atau makanan yang namanya "beras". Jangankan beras, pada zaman itu bahkan sapi & babi saja di zaman Nabī itu tak ada di semenanjung Àrab (sapi & babi itu bukan hewan native jazirah Àrab), sementara al-Qur-ān jelas menyebutkan keduanya. Orang Àrab itu menjumpai sapi & babi kalau mereka pergi berdagang ke wilayah Ṡām. Jikalau sekarang para ùlamā’ mengqiyāskan Zakāt Māl dengan Rupiah atau Zakāt Fiṭroh dengan beras, itu karena persamaan antara Rupiah dengan Dinār emas / Dirham perak, dan makanan pokok (staple food) beras dengan qurma / gandum. Di Àrab dulu uangnya ya Dinār / Dirham, sedangkan staple food...

Kalian Pasti Akan Meniru Mereka!

Gambar
Adalah salah satu bukti kenabīan bahwa seorang Nabiyullōh itu menyampaikan berita tentang masa depan ummatnya, dan begitu pula junjungan kita Baginda Nabī Muḥammad ﷺ‎. Di dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Baginda Nabī ﷺ‎ memberitakan: لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ ؛ قُلْنَا : يَا رَسُولَ ٱللهِ ٱلْيَهُودَ وَٱلنَّصَارَى ؛ قَالَ : فَمَنْ ؟ (arti) _“"Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang yang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang ḍob (biawak gurun –pent), pasti kalian pun akan mengikutinya.". Kami (para Ṣoḥābat) bertanya: "Wahai Rosūlullōh, apakah yang diikuti itu adalah Yahūdi dan Naṣrōnī?". Beliau menjawab: "Lantas siapa lagi?"”_ [HR al-Buḳōriyy no 3456, 7320; Muslim no 2669; Ibnu Mājah no 3994; Aḥmad no 7990, 9443, 11372, 11415]. … Generasi awa...

Logical Fallacy Mauliders

Gambar
Sebenarnya saya sudah malas membahas perkara Maulid Nabī ini, sebab kalau memang ada yang meyakini kebolehan merayakan Maulid Nabī, ya tak usah pakai hujjah-hujjah yang TIDAK LOGIS apalagi KEDUSTAAN untuk membenarkannya. Rayakan, ya rayakan saja sana, bebas dan akibatnya tanggung saja sendiri. Kenapa…? Sebab dengan menggunakan hujjah-hujjah yang lemah, tidak logis, dan dusta tersebut, justru malahan membongkar kengawuran, kelemahan berpikir, dan kekerdilan jiwa…! Coba lihat dua poster terlampir ini… ❌ Poster #1 intinya mengatakan: "To celebrate Maulid is accepted by all Muslims". Ini jelas KEDUSTAAN, sebab lagi-lagi siapa yang disebutnya sebagai "all Muslims" itu…? Jelas Baginda Nabī ﷺ‎ TIDAK PERNAH merayakan hari ulang tahun diri Beliau. Jelas para Ṣoḥābat رضي الله تعالى عنهم TIDAK PERNAH merayakan Maulid Nabī. Jelas para Tābiȉn dan Tābi‘ at-Tābiȉn رحمهم الله تعالى yang datang setelah para Ṣoḥābat TIDAK PERNAH merayakan Maulid Nabī. Jelas al-Aimmah al-Arbaàh —imām ...

Tak Merayakan Maulid = Tak Dianugerahi Cinta?

Gambar
Berlalu poster pembelaan perayaan Maulid Nabī ini di beranda saya. Terus terang saya tidak merayakan Maulid Nabī, namun juga tidak menyerang yang merayakan Maulid Nabī. Tetapi poster ini benar-benar menyinggung karena bāṭil. Iya bāṭil…! Pertama, mengatakan bahwa "cinta tidak dapat diajarkan". Coba perhatikan di dalam riwayat berikut ini dikisahkan: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ‎ وَهُوَ آخِدٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ ‎: لاَ وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ . فَقَالَ لَهُ عَمَرُ : فَإِنَّهُ اْلآنَ ، وَاللهِ ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ‎ اْلآنَ يَا عُمَرُ (arti) _“Kami pernah berjalan mengiringi Nabī ﷺ‎ dan Beliau menggandeng tangan Ùmar ibn al-Ḳoṭṭōb. Kemudian Ùmar berkata kepada Nabi ﷺ‎: "Wahai Rosūlullōh, sungguh anda sangat saya cintai melebihi apa pun selain diri...

Tentang Maulid

Saya pribadi tak pernah merayakan Maulid Nabī, sebab saya dari keluarga yang background-nya Muhammadiyah, dan guru-guru agama saya dulu di sekolah juga rata-rata Muhammadiyah. Dulu di sekolah pas hari libur Maulid, biasanya siswa-siswi dipanggil ke Masjid (waktu SMP) atau ke sekolah (waktu SMA karena sekolah saya waktu itu punya hall basket indoor). Acaranya sendiri biasanya hanya pembacaan ayat al-Qur-ān, lalu ceramah siroh Nabawiyyah. Tiada żikir-żikir atau ṣolāwat khusus. Setelah saya belajar lebih dalam tentang agama, maka saya meyakini bahwa perayaan Maulid Nabī itu adalah suatu kebidàhan. Iya kebidàhan, karena: 🔘 Pertama, TIDAK ADA kesepakatan dari para ùlamā’ ahli sejarah tentang tanggal berapa Baginda Nabī ﷺ‎ itu lahir. Adapun yang ṣoḥīḥ hanyalah bahwa Baginda Nabī ﷺ‎ dilahirkan pada hari Senin di bulan Robīùl-Awwal. Adapun tanggal 12 Robīùl-Awwal itu justru disepakati oleh ùlamā & kaum Muslimīn sebagai hari wafatnya Baginda Nabī ﷺ, yaitu pada hari Senin tanggal 12 Robīùl-...