Postingan

Menampilkan postingan dengan label rumah-tangga

Ḥukum Perempuan Ḥāiḍ Membaca al-Qur-ān

Gambar
Banyak dari perempuan yang meninggalkan membaca / tilāwah al-Qur-ān ketika mereka ḥāiḍ karena mendengar pendapat tentang ḥarōmnya membaca al-Qur-ān ketika sedang ḥāiḍ. ❓ Benarkah pendapat demikian? Ternyata setelah diteliti, pendapat yang mengatakan bahwa perempuan tidak boleh membaca tilāwah al-Qur-ān itu justru adalah pendapat yang LEMAH. Sebab: ⑴. Secara dalīl naqli, ḥadīṫ yang melarang perempuan yang sedang ḥāiḍ membaca al-Qur-ān itu diḍoȉfkan oleh mayoritas ùlamā’ ahli ḥadīṫ. ⑵. Secara dalīl àqli, kenapa perempuan yang sedang ḥāiḍ harus kehilangan haknya untuk mendekatkan dirinya kepada Allōh? Jadi justru sebenarnya TIDAK ADA larangan bagi perempuan yang sedang ḥāiḍ untuk tilāwah. 🚫 Adapun yang TIDAK BOLEH itu adalah memegang muṣḥaf al-Qur-ān, karena memang ḥadīṫnya ṣoḥīḥ dan para mayoritas ùlamā’ fuqohā’ juga berpendapat demikian. Adapun muṣḥaf ini adalah al-Qur-ān dalam bentuk kitāb dengan lembaran-lembaran kertas. Adapun muṣḥaf dalam bentuk digital seperti pada smartphone atau...

Polygamy = Dosa Berkesinambungan?

Gambar
Beberapa hari ini berlalu beberapa postingan di timeline saya perkataan-perkataan buruk tentang polygyny, yang mengecap perempuan yang mau dipolygyny sebagai pelakor, perempuan gatal perebut suami orang, sampai-sampai menganggap najis. Lucunya, semua mengaku dirinya Muslimah, mengaku berīmān kepada al-Qur-ān dan al-Ḥadiṫ, tidak menentang polygyny akan tetapi menganggap pelakunya melakukan dosa yang terus menerus karena "ada hati yang tersakiti". Subḥanallōh ṫumma naȕzubillāhi min żālik… Benar-benar pemikiran yang rusak terpengaruh Feminisme - Liberalisme yang terus dipropagandakan…! Bagaimana tidak…? Para penentang polygyny ini tidak bisa menentang kebolehan seorang laki-laki melakukan polygyny karena ia sangat jelas di dalam al-Qur-ān dan al-Ḥadiṫ yang ṣoḥīḥ. Apabila nekad menentangnya, mereka tahu konsekwensinya adalah kekāfiran! Lalu mereka mencoba masuk ke persoalan àdil dengan mengatakan bahwa pasti takkan bisa àdil 100%, karena pasti ada istri yang lebih dicintai. Namun...

Language of Love

Gambar
💕 Words of love – kata-kata cinta Contohlah betapa indahnya kata-kata panggilan kesayangan Baginda Nabī ﷺ‎ kepada Ibunda ‘Ā-isyah رضي الله تعالى عبها. Do'a-do'a Baginda Nabī ﷺ‎ untuk Ibunda ‘Ā-isyah. … … … 💕 Spending quality time with loved one – kebersamaan yang bermakna Contohlah betapa Baginda Nabī ﷺ‎ selalu mengobrol bersama para Ummul-Mu’minīn setiap malam. Atau mengajak Ibunda ‘Ā-isyah makan keluar. Atau mengajak Ibunda Kaum Mu’minīn dalam safar (termasuk dalam ekspedisi tempur). … … … Sweet caress – sentuhan mesra 💕 Contohlah betapa Baginda Nabī ﷺ‎ membiasakan mandi bersama istrinya. Atau mencubit sayang hidung Ibunda ‘Ā-isyah. Atau meletakkan kepala di pangkuan Ibunda ‘Ā-isyah sambil membaca al-Qur-ān. … … … 💕 Affection – pelayanan kemesraan Lihatlah ketika Baginda Nabī ﷺ‎ meletakkan pahanya sebagai pijakan kaki Ibunda Shofiyah رضي الله تعالى عبها ketika Beliau hendak naik ke kendaraan, lalu menutupi tubuh Ibunda Shofiyah dengan jubah Beliau. … … … 💕 Gift – hadiah ...

Peran Suami, Peran Super

Gambar
Ada hadīts mulia yang saya lama baru bisa memahaminya, yaitu: لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا (arti) _“Seandainya saya boleh menyuruh seorang manusia untuk bersujud kepada manusia lainnya, niscaya akan saya suruh seorang perempuan untuk bersujud kepada suaminya.”_ [HR at-Tirmidzī no 1159; Abū Dāwūd no 2140; Ibnu Mājah no 1852-3; Ahmad no 18591, 20983; ad-Dārimī no 1505]. Hadīts itu menunjukkan LARANGAN untuk bersujud kepada manusia (makhluq), namun sekaligus menunjukkan betapa tingginya kedudukan suami bagi istrinya di dalam Islām. Saya tak berani menentang hadīts, namun menurut pemikiran saya yang dho‘if, seharusnya yang paling dimuliakan oleh seorang perempuan itu adalah bapaknya. Namun semalam dalam diskusi saya dengan my Better Half, Allōh ﷻ‎ berikan saya hidayah untuk memahami hadīts mulia di atas… Bahwa suami yang memenuhi kewajiban secara Syari‘at dan Sosial itu memang pantas untuk menjadi yang paling utama di d...

And You Dare To Call Yourself a Gentleman?

Gambar
To: Para Suami Zaman Now Banyak lelaki di Zaman Now merasa dirinya gentleman dalam hubungannya dengan perempuan, merasa kalau sudah provide belanja, kasih rumah dan mobil, belikan perhiasan dan aksesoris mewah, then it's enough… he's the owner of her life… Well… Lebih 1.400 tahun tahun lalu, seorang laki-laki mulia dari semenanjung ‘Arabia mengajarkan kepada kaum laki-laki di Dunia on how to be a real gentleman… He ﷺ‎ set the highest gentleman standard ever. Iya… Beliau ﷺ mengajarkan bagaimana kalau istri naik kendaraan itu bukan hanya dibukakan pintu, tetapi Beliau ﷺ‎ sampai berlutut agar istrinya (yang kebetulan kecil tubuhnya) bisa menaiki unta dengan berpijak ke paha Beliau ﷺ, dan istrinya itu naik ke unta sambil ditutupi jubah Beliau ﷺ agar awrōtnya tak terlihat… Beliau ﷺ‎ mengajarkan bahwa suami itu tak harus marah apalagi sampai membentak istrinya yang cemburu sampai memecahkan piring makanan di depan teman-temannya, tetapi cukup mengatakan sambil tersenyum: "Ibu ka...

Taȁruf Itu Indah

Gambar
Banyak yang mengira bahwa proses pernikāhan dengan cara taȁruf itu mengabaikan prinsip "chemistry" di antara pasangan sehingga jadi seperti "beli kucing dalam karung" saja. Padahal sebenarnya tidak sama sekali. Ketika memulai proses  taȁruf , biasanya diawali dengan tukar-menukar CV yang berisikan bio data, visi-misi pernikahan, dan kriteria calon pasangan yang diinginkan. Lalu ketika sama-sama berminat dengan CVnya, maka akan berlanjut pada proses naẓor (pertemuan face-to-face). Nah pada naẓor ini –di sinilah– "chemistry" itu bisa muncul di mana "love at first sight" itu bisa terjadi. Trust me! God works in mysterious way. Ketika saling merasa ada ketertarikan pada saat naẓor pertama, maka tentunya dilanjut proses  taȁruf nya dengan bertukar WA atau social media untuk saling mengenal lebih jauh satu sama lain dalam batasan yang wajar dan diperbolehkan oleh Ṡarīàt. Ini adalah tahapan yang sangat penting, karena di sinilah saling menggali kualitas...

Cinta Transaksional

Gambar
Kaum Feminist SePiLis dengan ideologi Misandri-nya mencoba menjadikan hubungan suami-istri adalah hubungan transaksional antara manusia dengan manusia. ☠️ Padahal itu betul yang merusak sendi-sendi kemanusiaan…! Betapa tidak? Kalau sekedar transaksi antara manusia dengan manusia, maka begitu salah satu pihak dianggap sudah tak menguntungkan lagi, maka habis sudah… Atau lebih "tinggi" lagi jika salah satu pihak terus menarik deposit "coin of love"nya hingga sampai habis, maka that's it, habis sudah hubungan itu… bubar…! Apakah salah jika memandang hubungan antara manusia itu transaksional…? Well, tidak… karena motivasi transaksional itu sudah hardwired di dalam hati manusia. Itu sudah "Sunnatullōh" karena manusia bukanlah Malā-ikat yang tak mempunyai hawa nafsu, sehingga kita berbuat sesuatu pasti mengharapkan balasan. Nah di sinilah Islām mengajarkan kita mencapai tingkatan yang paling tinggi dari transaksi, yaitu: "IKHLĀSH". Selama ini kita ...

Woman To Make First Move Toward Marriage? Why Not!

Gambar
Tidak bisa dipungkiri bahwa adalah fakta bahwa perempuan yang single jauh lebih banyak daripada laki-laki yang single. Ini bukan perkara jumlah laki-laki jauh lebih sedikit dibanding perempuan. Tidak, karena ini belum sampai zaman 1 laki-laki berbanding 50 perempuan itu. Menurut Sensus Penduduk 2020, jumlah penduduk Indonesia itu pada 2021 diperkirakan 271.349.889 jiwa, di mana jumlah penduduk perempuan mencapai 134.229.988 jiwa dan penduduk laki-laki berjumlah 137.119.901 jiwa. Ada sekira 3 juta orang selisihnya. ❔ Lalu kenapa kenapa lebih banyak perempuan yang single? Jawabannya adalah karena jumlah laki-laki "siap menikah" itu sedikit dibanding perempuan yang siap menikah. Siap menikah ini adalah dalam arti mampu menafkahi keluarganya secara mandiri sesuai dengan strata sosialnya. Maksudnya? Begini… Perempuan itu ketika ia sudah baligh, maka pada dasarnya ia sudah siap untuk menikah. Apakah ada yang berani mengatakan gadis yang baru tamat SMA itu tidak layak menikah? Tentu...