Antara Gaji Guru Honorer vs Tukang Cuci Ompreng
Ada yang membandingkan pendapatan guru honorer (yang bergaji Rp 400.000 /bulan) dengan tukang cuci ompreng (yang bergaji Rp 2.400.000 /bulan) dengan menggunakan pendekatan "adu nasib" lalu membuat romantisme penderitaan untuk menjustifikasi ketimpangan upah yang terjadi. Argumen penulisnya hanya menekankan pada beban kerja fisik tukang cuci ompreng yang berat, sementara ia melewatkan beberapa poin fundamental yang sangat jelas diabaikan secara objektif – seharusnya tak boleh dilakukan oleh seorang yang mengaku-ngaku ìlmiyyah. ❓ Apa saja pengabaiannya itu…? . ❌ Pertama, investasi pendidikan & kualifikasi Menjadi guru honorer membutuhkan kualifikasi akademik minimal Strata Satu (S1). Ada investasi waktu (4 tahun), biaya kuliah, dan energi intelektual yang besar untuk mendapatkan gelar tersebut. Secara ekonomi, upah Rp 400.000 bagi seorang profesional bergelar sarjana adalah bentuk degradasi atas profesinya. Jika upah tenaga educated jauh di bawah tenaga non-educated, maka s...