Postingan

Beda Social Capital, Bukan Standar Ganda

Gambar
Para PENDAKU Salafiyy mempertanyakan tentang mengapa ngustad mereka disebut sebagai "penjilat rezim", sementara Muhammadiyah dan Wahdah Islamiyah yang juga berkolaborasi dengan Pemerintah tak mendapatkan tuduhan serupa? Pertanyaan ini sekilas terlihat tajam, akan tetapi ia menyimpan false equivalence yang sangat parah, sebab ia menyamakan entitas-entitas yang tak setara. Masalahnya bukan pada apa yang dilakukan, melainkan siapa yang melakukan dan apa social capital yang dimilkinya. Ada variabel yang luput dari persamaan yang dibangun pada postingan tersebut, yaitu: TRUST. Iya: trust, dan di dalam Islām, prinsip trust ini diakui secara mutlak. Kita tentu ingat momen awal da`wah Baginda Nabiyy ﷺ saat Beliau mengumpulkan kaum Quroiṡ di bukit Ṣofā dan bertanya: "Bagaimana menurut kalian jika kukabarkan ada pasukan berkuda musuh di lembah balik bukit ini akan menyerang kalian, apakah kalian percaya kepadaku?" [HR al-Buḳōriyy no 4770; Muslim no 208]. Maka tanpa ragu, kaum...

Sudah Mati Tapi Mau Monitor & Cari Yang Masih Hidup?

Gambar
So-called "Ulil Amri"nya gerombolan Neo Murji-ah PENDAKU Salafiyy mengatakan: "…Kalau dipanggil Yang Maha Kuasa, aku lihat tetap saya monitor kalian. Kalau kalian kurang ajar malam-malam aku turun nyari kau! … Jangan main-main kau! Kau melanggar berkhianat kepada Merah Putih, aku turun, aku cari kau ini!" Naȕżubillāhi min żālik…! ❓ Maka bagaimana seorang Mu’min memandang pernyataan tersebut? ‼️ Di dalam Islām, orang yang sudah mati itu TIDAK ADA ceritanya bisa kembali ke dunia. 📌 Kata Allōh ﷻ di dalam firman-Nya: حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ٱرۡجِعُونِ ۝ لَعَلِّىٓ أَعۡمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكۡتُۚ كَلَّآۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَاۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرۡزَخٌ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ۝ (arti) _“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, ia berkata: "Waha Robb-ku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.". Sekal...

Netizen Tak Mau Diluruskan? – Gaslighting Penjilat Penguasa Berkedok Manhaj

Gambar
Membaca postingan PENDAKU Salafiyy ini terasa sekali hawa merasa paling benar sendiri seraya menuduh mayoritas kaum Muslimīn itu "anti-nasihat" dan "hanya menuruti hawa nafsu". Masalahnya bukan karena ummat Islām itu "anti-nasihat", tapi karena apa yang disebutnya sebagai "nasihat" itu sebenarnya berangkat dari pemahaman yang sesat, standar ganda, dan tendensi àṣobiyyah yang dipaksakan kepada orang lain. Mari bedah satu per satu dan luruskan logika sesatnya… . ❌ Zaman Demo a Hog — Antara Ġoiroh Agama & Pemaksaan Opini Fiqh Ketika a Hog melakukan penistaan agama dengan melecehan QS al-Mā-idah ayat 51, maka ummat Islām bergerak karena didorong oleh amarah yang sah — yaitu ġoiroh (kecemburuan) terhadap agamanya yang telah dinodai. ABI itu tersebut bukan dalam rangka mencela apalagi memberontak terhadap yang di"ulil amri"kan oleh gerombolan PENDAKU Salafiyy itu, sama sekali bukan. Melainkan ia murni pembelaan terhadap kesucian al-Qur-ā...

Menolak Fatalisme Jabriyyah Neo Murji-ah

Gambar
Lagi-lagi kita menyaksikan duȁt gerombolan PENDAKU Salafiyy yang beràqīdah Neo Murji-ah menggunakan dalīl àqīdah secara tak pada tempatnya demi memaklumi dan menjustifikasi kemerosotan nilai tukar Rupiah yang terus terjadi. Seperti kita lihat pada screenshot terlampir, narasi yang membingkai persoalan makroekonomi dengan retorika: "Allah yang menjamin rezekimu saat Dollar 6.000, Allah juga yang menjamin rezekimu saat Dollar 18.000…" tersebut sekilas terdengar sangat religius, namun menyimpan cacat logika dan kerancuan àqīdah yang sangat serius…! Bagaimana tidak…? Tak ada satu pun Muslim yang mengingkari bahwa Allōh ﷻ adalah ar-Rozzāq (Maha Pemberi Rezeki) yang menjamin seluruh maḳlūq-Nya. Hal ini sudah selesai dan mutlak. Akan tetapi, Allōh ﷻ juga menegakkan dunia ini di atas hukum sebab-akibat (sunnatullōh / asbab). Menyerahkan urusan kemerosotan ekonomi total kepada taqdir, lalu melarang manusia mengkritik salah urus kebijakan oleh rezim penguasa dengan dalih "rezeki s...

Kritik Kebijakan Ekonomi Rezim Penguasa = Bukti Rusaknya Ketauḥīdan?

Gambar
🧕🏻 | Bang, ada yang mengatakan bahwa orang yang mengkritik rezim penguasa karena keadaan ekonomi, maka àqīdahnya bermasalah (sebagaimana poster terlampir). Menurut Abang bagaimana? 🧔🏻‍♂️ | Begini… Terus terang saya belum baca fatwa asli dari Ṡaiḳ Ṣōliḥ al-Fauzān حفظه اللـه تعالى tersebut, namun tidak ada yang perlu diperdebatkan di sini. Benar bahwa rezeki sepenuhnya berasal dari Allōh ﷻ — bukan dari negara, bukan dari perusahaan tempat kita bekerja, bahkan tidak semata-mata bergantung pada seberapa keras kita bekerja atau seberapa laris dagangan kita. Ini adalah keyakinan yang wajib dipegang oleh setiap Muslim. 🔥 Namun, menghubungkan kritik terhadap kebijakan rezim penguasa dengan rusaknya àqīdah adalah suatu lompatan logika yang berbahaya…! Sebab, jika logika pembuat poster tersebut diikuti secara konsisten, maka orang yang melaporkan dirinya saat ia dirampok bisa dibilang "kurang tauḥīd karena tak riḍō pada taqdir". Orang yang mengeluh saat ditipu dalam jual-beli bisa...

Now & Then, Antara 2026 dan 1998

Gambar
Keadaan saat ini membawa ingatan kembali ke masa "Krisis Moneter 1997-1998" (yang berujung pada krisis ekonomi & sosial politik di 1998). Awalnya waktu itu kurs Rupiah (IDR) terdepresiasi berat dan brutal sehingga USD melambung lebih dari 6x lipat dalam waktu tak sampai setahun. Pada Juli 1997, badai dimulai saat Baht Thailand (THB) tumbang sehingga IDR pun ikut goyang dari posisi Rp 2.300 — 2.400 /USD. BI awalnya mencoba melakukan intervensi dengan melepas ≈USD 2milyar — 3milyar langsung di pasar spot serta diiringi juga dengan intervensi BI di pasar forward dengan melepas ≈USD 5milyar. Kalau diingat-ingat, omongan para pejabat otoritas moneter di 1998 sebenarnya mirip-mirip dengan omongannya para Bejatbad di Zaman Now, semisal: ❌ "Ini hanya sementara, cuma jangka pendek saja…", ❌ "Fundamental ekonomi kita kuat…", ❌ "Rupiah kita itu under valued…", dlsb. Kalimat-kalimat yang membenarkan bahwa penyebab krismon 1998 menurut Paul Krugman ...

Kurs Rupiah Terdresiasi = Tak Masalah?

Gambar
Argumen dalam postingan terlampir ingin melakukan "normalisasi" terhadap kurs IDR 17.400 per USD dengan membandingkannya ke tahun 1998. Namun, kalau kita bedah secara ìlmu ekonomi, maka argumen itu jelas hanya bisa ditulis orang yang sotoy tak paham ìlmu ekonomi tapi sok-sok bicara tentang ekonomi. Mari kita bahas… . 🔴 Pertama soal latar belakang pelemahan kurs IDR itu sendiri. Tahun 1998 kurs IDR mengalami depresiasi karena "kejutan" mendadak (sudden shock), adapun di tahun 2026 kurs menyentuh 17.400 secara gradual terus-menerus turun, itu menunjukkan adanya masalah struktural dalam manajemen ekonomi oleh rezim pemerintahan yang gagal menjaga fundamental IDR. Menyalahkan faktor global adalah bentuk lepas tangan, karena negara-negara tetangga tidak mengalami pelemahan mata uang sedalam IDN — hal ini terbukti kurs IDR mengalami depresiasi terhadap mata uang Malaysia (MYR), Vietnam (VND), Thailand (THB), Singapura (SGD), bahkan Laos (LAK). Satu-satunya yang IDR menga...