Now & Then, Antara 2026 dan 1998

Keadaan saat ini membawa ingatan kembali ke masa Krisis Moneter 1997 yang membaca kepada Krisis Ekonomi & Sosial Politik 1998. Awalnya waktu itu kurs Rupiah (IDR) terdepresiasi berat dan brutal sehingga USD melambung lebih dari 6x lipat dalam waktu tak sampai setahun…


Awalnya adalah pada Juli 1997 di mana badai dimulai saat Baht Thailand (THB) tumbang sehingga IDR pun ikut goyang dari posisi Rp 2.300 — 2.400 /USD. BI awalnya mencoba melakukan intervensi dengan melepas ≈USD 2milyar — 3milyar langsung di pasar spot serta diiringi juga dengan intervensi BI di pasar forward dengan melepas ≈USD 5milyar.

Kalau diingat-ingat, omongan para pejabat otoritas moneter di 1998 sebenarnya mirip-mirip dengan omongannya para Bejatbad di Zaman Now, semisal:
❌ "Ini hanya sementara, cuma jangka pendek saja…",
❌ "Fundamental ekonomi kita kuat…",
❌ "Rupiah kita itu under valued…", dlsb.

Kalimat-kalimat yang membenarkan bahwa penyebab krismon 1998 menurut Paul Krugman adalah "hubris" (lihat: "What Happened to Asia?", Januari 1998). Walau demikian, ternyata pernyataan para pejabat otoritas keuangan serta petinggi BI tersebut itu sama sekali tak digubris oleh pasar. Intervensi yang dilakukan BI sia-sia menguap begitu saja karena market sama sekali tak ikut menjual USD, melainkan justru malah menelan habis cadangan devisa yang dilempar oleh BI ke pasar.

Setelah BI "membakar" ≈USD 7milyar — 8milyar dari total USD 20milyar cadangan devisanya, akhirnya pada 14 Agustus 1997 BI terpaksa "menyerah" dan melepaskan rezim kurs "managed floating" menjadi "free floating". Akibatnya, kurs IDR langsung anjlok ke level Rp 2.800an.

Di Bursa Efek juga kurang lebih sama, walau IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang masa saat itu di level 740,83 (8 Juli) sebelum badai THB menyeberang ke IDN, namun ketika BI melepas rezim kurs "managed floating", maka pasar merespon jebolnya kurs IDR itu dengan panic selling sehingga IHSG rontok menembus di bawah level psikologis 500, yaitu 490an. Sementara di sektor perbankan, beban utang valas perbankan semakin membengkak, sedangkan likuiditas antarbank semakin mengetat.

Pada November 1997, IMF memaksa likuidasi 16 bank swasta (1 November), sehingga masyarakat panik karena tidak ada penjaminan simpanan (LPS belum ada), antrean mengular menguras tabungan di bank-bank swasta. Keadaan di Bursa Efek juga sama buruknya, saham-saham bank dan konglomerasi rontok berjemaah karena kepanikan sistemik di sektor riil. IHSG pun tersungkur ke level 400an.

Pada Desember 1997 — Januari 1998, terjadi histeria gelombang kedua di mana rumor penutupan bank lanjutan menyebar liar. Bank swasta terbesar (BCA) dihantam bank run hebat sehingga BI terpaksa mengucurkan bantuan likuiditas darurat (BLBI) secara masif agar perbankan tidak kolaps total. Kurs IDR pun jebol ke level Rp 10.000 — 13.000 /USD karena pasar merespons negative peristiwa yang sangat penting, yaitu: LoI (Letter of Intent) II dengan IMF.

LoI II dengan IMF yang ditandatangani pada 15 Januari 1998 oleh Presiden Soeharto di depan Michel Camdesus itu hakikatnya adalah "penyerahan kedaulatan ekonomi" IDN. LoI yang berisi 50 butir komitmen reformasi struktural yang sangat ketat, di mana IPTN "dimatikan", juga termasuk penghapusan berbagai monopoli dagang milik keluarga dan kroni Cendana. Adapun yang menyakitkan adalah gestur à la "tuan tanah" dari Michel Camdessus (Direktur IMF) yang berdiri dengan wajah dingin sambil melipat tangan di dada saat Soeharto membungkuk menandatangani dokumen LoI. Terus terang saya sangat sakit hati melihatnya, karena secara visual itu menunjukkan arogansi IMF dan posisi tawar IDN yang begitu rendah, after all no matter how much I hated Soeharto, he's my president.

Sementara emiten di Bursa Efek pada bangkrut di atas kertas karena utang USD membengkak 6x lipat. IHSG terjun bebas ke kisaran 340an dan fenomena "saham gocap" (Rp 50) dimulai.

Pada Februari — April 1998, kondisi perbankan sedikit tertahan oleh suntikan BLBI, namun kepercayaan masyarakat belum pulih sepenuhnya. Kasus NPL (non-performing loan) meroket tajam menuju negative equity. Sementara di Bursa Efek terjadi "false hope" di mana IHSG mengalami technical rebound ke kisaran 400 — 500an akibat spekulasi pasar terhadap rencana penerapan Currency Board System (CBS) oleh MenKeu Fuad Bawazier. Namun sektor riil malah semakin memburuk karena PHK (pemutusan hubungan kerja) terjadi di mana-mana akibat perusahaan-perusahaan bangkrut dan tutup.

Pada Mei 1998, terjadi kerusuhan sosial yang akibatnya adalah kejatuhan rezim Orde Baru-nya Soeharto. Tragedi Trisakti dan Kerusuhan Massal (13-15 Mei) mengakibatkan terjadinya bank run di mana yang terdahsyat menghantam BCA karena sentimen politik. Akhir Mei, BCA resmi diambil alih (takeover) oleh pemerintah di bawah BPPN. Akibat kerusuhan terjadi total capital flight yang memaksa Presiden Soeharto mundur (21 Mei) dan membuat perdagangan waras berhenti. Investor asing kabur total, menjual saham dengan harga berapa saja demi mengejar USD. IHSG longsor kembali ke level 430an dengan pasar yang senyap, sepi, dan mati.

1997 — 1998, masa setahun yang penuh turbulensi di mana perusahaan-perusahaan pada bangkrut, PHK terjadi di mana-mana, berutang ke IMF dengan LoI I dan II yang begitu menjajah, NPL bank meroket sampai CAR menjadi negatif lalu ada BPPN, MSAA, MRNIA…

Kecepatan runtuhnya mata uang ini yang membuat para pelaku ekonomi waktu itu lumpuh, di mana hanya dalam waktu 11 bulan IDR kehilangan hampir 85% nilainya terhadap USD, dan IHSG kehilangan lebih 60% nilainya. Kecepatan hantaman inilah yang membuat kalkulasi bisnis menjadi mustahil dan memicu kebangkrutan massal secara instan.

Walau itu terjadi hampir 30 tahun lalu, namun rasanya semua itu baru terjadi kemarin karena waktu itu saya baru lulus dari FEUX (jurusan IESP)… di mana kepala penuh dengan bacaan dari Paul Krugman, Joe Stiglitz, Jeffrey Sachs, Stanley Fischer, Jagdish Bhagwati…

Itu dulu…

Now, pertanyaannya adalah apakah akan terjadi lagi yang semisal 1998 itu sekarang…?

Well, I really don't know…

Sebab Soeharto tak pernah bicara sembarangan semisal: "Rakyat di desa enggak pakai dollar" atau: "Selama Fuad Bawazier bisa senyum, enggak usah khawatir mau dollar berapa ribu"…

Namun tetap saja rezim OrBa-nya Soeharto tumbang karena krisis ekonomi yang diawali dengan depresiasi kurs IDR dan anjloknya IHSG.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!

Umbar Àib di Pengajian

Membeli Karena Kasihan?