Rupiah Lemah = Bagus (Ekspor Melejit)?

Ada yang bikin video menarasikan bahwa Rupiah Indonesia (IDR) yang terdepresiasi justru bagus untuk ekspor, dan ia mengambil contoh Jepang (JPY) di era 1970-1980an dan RRC (CHN) di era 2000an.


❓ Seperti biasa, pertanyaannya adalah: "Benarkah begitu?"

Si pembuat konten video itu menggunakan teori ekonomi yang dikenal sebagai "competitive devaluation", di mana otoritas moneter suatu negara sengaja melemahkan mata uangnya untuk menggenjot ekspor. Logika ini memang sukses diterapkan oleh JPN pada tahun 1970-an atau CHN pada awal tahun 2000an.

Depresiasi yang terkelola memang bisa membantu ekspor, akan tetapi menyamakan kondisi Yen Jepang (JPY) dan Yuan RRC (CNY) pada saat itu dengan IDR saat ini adalah sebuah kekeliruan fatal karena….

.

🔴 Pertama, struktur perekonomian antara JPY dan CHN dengan IDN itu sangat berbeda.

Kalau kita lihat dengan detail, maka JPN di 1970-an itu mengekspor barang manufaktur jadi yang bernilai tambah tinggi (seperti mobil dan elektronik). Ketika JPY murah, tentu produk mereka jadi sangat kompetitif di Amerika Serikat (USA) yang menjadi pengimpor terbesar di dunia. Begitu juga dengan CHN di era 2000an.

Sementara IDN saat ini ekspor utamanya masih didominasi oleh komoditas mentah / setengah jadi (seperti batu bara, sawit / CPO, dan nikel). Harga komoditas tersebut ditentukan oleh pasar internasional dalam satuan USD. Artinya, depresiasi IDR tidak serta-merta membuat pembeli global memborong lebih banyak komoditas IDN, karena permintaan mereka murni dikendalikan oleh kebutuhan industri global, bukan karena kurs IDR yang melemah.

.

🔴 Kedua, industri manufaktur IDN punya ketergantungan impor bahan baku dan mesin.

Ketika pembuat konten video itu mencontohkan "pabrik sepatu yang buka lowongan kerja", maka JPN dan CHN punya basis manufaktur yang sudah kuat sebelum kebijakan "competitive devaluation" itu dijalankan. Mereka punya industri, teknologi, dan tenaga kerja terampil yang siap menerima lonjakan order ekspor.

Sementara IDN, maka faktanya industri manufaktur di IDN memiliki tingkat ketergantungan yang sangat tinggi terhadap impor bahan baku dan komponen industri (termasuk capital goods / barang modal seperti mesin-mesin yang tidak diproduksi sendiri di dalam negeri). Pabrik sepatu yang disebut dalam narasi, bahan bakunya seperti kulit, kanvas, sol, dan lem sintetis (intermediate goods), begitu pula mesin-mesin produksinya (capital goods), sebagian besar masih diimpor. Oleh karena itu, ketika IDR terdepresiasi, "import content of export" otomatis melonjak sehingga biaya produksi ikut naik — semakin tinggi kandungan impor dalam produk ekspor, semakin kecil manfaat depresiasi mata uang bagi daya saing ekspor. Akibatnya, harga jual produk ekspor tidak menjadi lebih murah, melainkan justru lebih mahal. Lalu ketika menaikkan harga bukan opsi yang bisa diambil dengan mudah, maka tentulah margin keuntungan yang terkikis habis.

.

🔴 Ketiga, mitos "tembok pelindung" dan "substitusi impor".

Pembuat konten video itu menyebut bahwa mata uang yang melemah memaksa rakyat jadi kreatif dan membuat barang sendiri di dalam negeri. Padahal, realitasnya tidak semudah itu!

Untuk membangun industri substitusi impor (misalnya perkebunan kedelai dan pertanian gandum, apalagi pabrik mesin let alone pabrik microchip) maka dibutuhkan waktu bertahun-tahun, infrastruktur yang matang, dan teknologi tinggi.

Apabila industri dalam negerinya belum siap, maka melemahnya IDR tidak akan membuat rakyat jadi "kreatif", melainkan membuat rakyat terpuruk karena terpaksa membeli barang kebutuhan pokok (seperti gandum untuk mi/roti, kedelai untuk tempe, obat-obatan, dan gadget) dengan harga yang jauh lebih mahal.

Kondisi IDN saat ini tidak ideal, kalau IDR dipaksa melemah sebagai "shock therapy" untuk memaksa industrialisasi, maka depresiasi tanpa kapasitas industri yang memadai secara historis yang terjadi bukan industrialisasi namun justru berujung krisis. IDN pernah mengalaminya di 1997-1998, juga Argentina di 2001.

.

🔴 Keempat, beban utang luar negeri.

JPN dan CHN itu adalah negara kreditor (pemilik piutang terbesar di dunia), sehingga mereka tak pusing dengan kurs JPY dan CNY yang melemah terhadap utang luar negeri mereka.

Per data IMF / WB 2025, CHN itu gross liabilities (utang) ≈USD 7.714,8milyar, dan posisi NIIP (net international investment position)nya adalah +USD 4.071,3milyar. JPN punya gross liabilities ≈USD 8.813,5milyar, dan posisi NIIPnya +USD 3.671,9milyar. Posisi NIIP dari JPN dan CHN itu surplus sangat besar sehingga menjadikan mereka kreditor no 2 dan 3 terbesar di dunia. Adapun IDN, gross liabilities ≈USD831,1milyar, sedangkan posisi NIIPnya -USD 272,6milyar, yang mana ini menjadikan IDN sebagai net debtor.

Selain itu, JPN dan CHN mengelola kurs mata uang mereka secara aktif dan terencana dengan didukung cadangan devisa yang sangat besar. Artinya, ketika mata uang mereka melemah, itu adalah pelemahan yang terkendali (managed depreciation). Sementara IDR sering kali melemah secara fluktuatif akibat sentimen pasar negatif, capital outflow, atau krisis kepercayaan — seperti yang terjadi di 1997-1998. Depresiasi IDR yang tak terkontrol memicu pelarian modal asing, menaikkan beban utang luar negeri (yang dihitung dalam USD), dan bisa memicu krisis perbankan. IDN memiliki utang luar negeri (pemerintah + swasta) yang signifikan dalam denominasi USD, sehingga jikalau IDR melemah 10%, maka beban cicilan utang dalam IDR otomatis naik 10% — uang negara yang seharusnya untuk subsidi atau infrastruktur (jalan, sekolah) akan tersedot untuk menutup selisih kurs utang.

.

🔴 Siapa yang paling dirugikan?

Kelas menengah-atas dan eksportir mungkin bisa "memanfaatkan" kurs IDR yang lemah, akan tetapi:
🔥 Buruh, petani, dan masyarakat berpenghasilan tetap akan langsung merasakan kenaikan harga sembako, elpiji, transportasi — karena semua punya komponen impor.
🔥 UMKM yang bukan eksportir tapi butuh bahan baku impor langsung tertekan marginnya.
🔥 Keluarga yang punya tanggungan biaya luar negeri (pendidikan, kesehatan) langsung terbebani.

.

Strategi "mata uang lemah = negara maju" hanya berlaku untuk negara raksasa manufaktur yang mandiri secara bahan baku dan barang modal. Adapun bagi IDN, IDR yang terlalu lemah bukanlah strategi perang ekonomi yang cerdas, melainkan beban berat yang memicu inflasi, menggerogoti daya beli rakyat, dan membengkakkan utang negara. IDR yang melemah tajam jauh lebih banyak keburukannya daripada manfaatnya, setidaknya dalam jangka pendek hingga menengah.

Strategi yang benar bukan dengan "membiarkan IDR lemah", akan tetapi dengan memperkuat industri dulu, kurangi ketergantungan bahan / barang impor, baru kita bicara tentang currency competitiveness.

Demikian, semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!

Umbar Àib di Pengajian

Cost of War