Beda Social Capital, Bukan Standar Ganda
Para PENDAKU Salafiyy mempertanyakan tentang mengapa ngustad mereka disebut sebagai "penjilat rezim", sementara Muhammadiyah dan Wahdah Islamiyah yang juga berkolaborasi dengan Pemerintah tak mendapatkan tuduhan serupa?
Pertanyaan ini sekilas terlihat tajam, akan tetapi ia menyimpan false equivalence yang sangat parah, sebab ia menyamakan entitas-entitas yang tak setara.
Masalahnya bukan pada apa yang dilakukan, melainkan siapa yang melakukan dan apa social capital yang dimilkinya. Ada variabel yang luput dari persamaan yang dibangun pada postingan tersebut, yaitu: TRUST.
Iya: trust, dan di dalam Islām, prinsip trust ini diakui secara mutlak. Kita tentu ingat momen awal da`wah Baginda Nabiyy ﷺ saat Beliau mengumpulkan kaum Quroiṡ di bukit Ṣofā dan bertanya: "Bagaimana menurut kalian jika kukabarkan ada pasukan berkuda musuh di lembah balik bukit ini akan menyerang kalian, apakah kalian percaya kepadaku?" [HR al-Buḳōriyy no 4770; Muslim no 208].
Maka tanpa ragu, kaum Quroiṡ pun menjawab: "percaya" — karena gelar al-Amīn yang mereka berikan sendiri kepada Baginda Nabiyy Muḥammad ﷺ atas dasar rekam jejak kejujuran Beliau sepanjang hidupnya.
Kuncinya ada pada satu kata: trust, dan itulah variabel yang sama sekali tak masuk dalam persamaan yang dibuat oleh oknum PENDAKU Salafiyy tersebut.
Muhammadiyah dan Wahdah — mereka berkolaborasi dengan Pemerintah dari posisi yang masih memiliki cadangan social capital yang sangat besar di mata kaum Muslimīn. Rekam jejak mereka –dengan segala kekurangannya– tak pernah secara konsisten melukai perasaan kaum Muslimīn.
Sementara para ngustad PENDAKU Salafiyy melakukannya dari posisi yang sudah mengalami defisit kepercayaan berat yang mereka ciptakan sendiri. Rekam jejak para PENDAKU Salafiyy itu sangat sulit dibantah.
Ingat kembali momentum Aksi Bela Islām — saat persatuan ummat sedang hangat-hangatnya. Apa respons para PENDAKU Salafiyy itu? Muncul video Riyadh Bajrey yang berbicara tentang menumpahkan darah para demonstran. Muncul pula video pentolan PENDAKU Salafiyy (tepat dua pekan sebelum ABI 212) yang secara sarkastis mengindikasikan ABI sebagai "Persatuan Kebun Binatang".
Begitu pula sudah sangat jamak ketika ada tokoh atau ùlamā’ kaum Muslimīn wafat, maka narasi yang ditebar di media sosial oleh para PENDAKU Salafiyy itu sering kali sangat tak beradab dan menyakitkan bagi kaum Muslimīn.
Lalu ketika Aksi 7 Oktober 2023 oleh Ḥ4M4S bergolak, para PENDAKU Salafiyy itu bukan berdiri di sisi perjuangan kemanusiaan melawan penjajahan Judeo-Christian Zionist — mereka malah justru terus-menerus menyerang para Mujāhidīn yang sedang berdarah-darah melawan penjajah.
Kemudian ketika Riyadh Bajrey yang tertangkap basah videonya di atas kapal sedang merokok dan memakai celana pendek tampak paha — yang kontras dengan da`wah sok kerasnya itu — malah berkilah mencari-cari pembenaran atas kelakuannya yang sungsang.
Belum lagi sederet nama seperti AT, UB, ZN, MQ, HH, yang tampil garang di media sosial melecehkan tokoh atau OrMas kaum Muslimīn, tetapi begitu didatangi langsung bersikap layaknya ayam sayur, malah membuat video permintaan maaf menarik pernyataan mereka dan menandatangani surat pernyataan di atas meterai.
Semua itu membuat kepercayaan kaum Muslimīn terhadap ngustad-ngustad Neo Murji-ah terkikis habis. Inilah yang membuat legitimasi moral para ngustad PENDAKU Salafiyy itu hancur.
Jadi ketika para PENDAKU Salafiyy itu membandingkan ngustad mereka dengan Aa Gym — yang juga pernah menyampaikan nasihat serupa soal kondisi ekonomi — maka perbandingan itu jelas sama sekali tidaklah apple to apple. Kaum Muslimīn mencatat sejarah dengan baik: Aa Gym turun langsung dalam Aksi 1410, 411, dan 212. Beliau memunguti sampah bersama timnya di lapangan. Rekam jejaknya tak pernah memfatwakan sesuatu yang melukai perasaan kaum Muslimīn. Maka sangat logis jika reaksi ummat terhadap Aa Gym berbeda jauh.
Rekam jejak tak bisa dibohongi, ini adalah human nature. Jadi pertanyaannya seharusnya dibalik, BUKAN: "Kenapa ngustad PENDAKU Salafiyy yang dituduh penjilat rezim, padahal yang lain juga berkolaborasi?" — melainkan: "Mengapa mereka berharap diperlakukan setara dengan pihak yang rekam jejaknya berbeda jauh?".
Kolaborasi dengan Pemerintah tidaklah otomatis menjadi masalah. Adapun yang menjadi masalah adalah ketika kolaborasi itu dilakukan oleh pihak yang selama ini konsisten melukai kaum Muslimīn — dan kemudian meminta ummat untuk mempercayai mereka begitu saja…
No way, Jose!
Social Capital (istilah yang dipopulerkan oleh Robert Putnam dan Pierre Bourdieu) itu bukanlah sesuatu yang bisa diklaim secara sepihak — it must be earned through one's track record and maintained through consistency.
Demikian.

Komentar
Posting Komentar