MPO (Mencari-cari Perhatian Orang) – Strategi Politik Spektakel di Era Atensi
Kalau dicermati lebih dalam, apa yang dilakukan si Aki-aki Gemoy sejatinya bukan sekadar eksentrisitas pribadi. Ini adalah pola yang terstruktur — sebuah adaptasi dari playbook politik yang sudah lebih dulu dipraktikkan oleh si Djoko Oey. Pura-pura tak bisa berhitung, berkomentar ngawur soal Dollar dan warga desa, hingga mengklaim akan "mengawasi dari atas" dan "turun kembali ke dunia" jika ada yang berkhianat, maka semua itu bukanlah sekadar slip of the tongue, tetapi it is all by design.
❓ Pertanyaannya: apa sih maksud di balik semua itu?
ℹ️ Jawaban singkatnya: agar tetap menjadi bahan omongan, karena itulah satu-satunya modal yang tersisa ketika rekam jejak prestasi nihil.
.
⑴. Pergeseran Persona: Dari Strongman ke Meme-able Populist
Kemiripan pola antara si Aki-aki Gemoy dan si Djoko Oey bukan kebetulan. Ini adalah adaptasi strategi marketing politik yang terbukti efektif di ekosistem pemilih tertentu (baca: IQ <78).
Djoko Oey membangun persona "orang biasa" yang otentik secara konsisten: ndeso, blusukan, masuk gorong-gorong, salah sebut nama, memberi teka-teki nama-nama ikan. Strategi ini bekerja di dua level sekaligus — meruntuhkan jarak psikologis dengan pemilih awam, sekaligus mendominasi siklus berita dengan konten yang sifatnya humanis dan mudah dikonsumsi.
Si Aki-aki Gemoy melakukan hal yang sama, namun dengan titik tolak yang berbeda: ia harus meninggalkan citra elitis-militeristik yang kaku dan menggantinya dengan persona yang lebih cair, jenaka, bahkan swadestruktif (self-deprecating humor) — joget-joget menggelikan, bingung dengan angka, komentar yang seolah-olah polos. Dalam literatur komunikasi politik, ini disebut taktik humanisasi: menurunkan resistensi publik melalui kesan "apa adanya", sekaligus memancing simpati dari segmen pemilih yang alergi terhadap figur yang terlalu formal atau terkesan arogan.
❗️ Yang perlu dicatat: self-deprecating humor di tangan politisi bukan kerendahan hati — ini senjata retorika. Ia menciptakan kesan bahwa sang tokoh "tak takut ditertawakan", padahal justru di situlah kendali naratif diambil alih.
.
⑵. Politik Spektakel dan Agenda-Setting: Menjual Atensi
Dalam teori Agenda-Setting (McCombs & Shaw, 1972), media tidak mendikte "apa yang harus dipikirkan" (what to think) oleh publik — melainkan mendikte "apa yang harus dipikirkan tentang" (what to think about). Di era digital, kekuatan ini bahkan telah berpindah dari media ke algoritma.
Di sinilah politik spektakel menemukan lahannya yang paling subur.
Komentar kontroversial atau perilaku eksentrik berfungsi sebagai media bait — umpan yang sengaja dilempar agar publik bereaksi: menertawakan, mengkritik, mendebat, atau sekadar me-meme-kan. Ketika reaksi itu datang, algoritma media sosial membacanya sebagai engagement tinggi dan kemudian secara otomatis memperluas distribusi konten tersebut — tanpa biaya iklan sepeser pun.
Hasilnya?
Wajah dan nama sang tokoh tetap berada di top-of-mind masyarakat, terlepas dari apakah sentimen publik itu positif atau negatif. Dalam ekonomi atensi (attention economy), dibicarakan lebih berharga daripada dihormati.
❗️ Ini juga yang menjelaskan mengapa klarifikasi atau bantahan atas gimmick tersebut justru kontraproduktif: setiap respons — sekritis apa pun — hanya menambah bahan bakar bagi algoritma untuk terus mendistribusikan nama sang tokoh.
.
⑶. Masking Effect: Gimmick sebagai Political Smokescreen
Inilah fungsi paling strategis dari seluruh pertunjukan ini sebab ketika panggung politik dipenuhi narasi teatrikal — joget viral, komentar blunder yang disengaja, atau pernyataan mistis soal "mengawasi dari atas" — maka ruang untuk diskursus substantif otomatis menyempit. Akan semakin minim atau bahkan tidak ada lagi diskusi tentang evaluasi kebijakan, rekam jejak kinerja makroekonomi, efektivitas alokasi anggaran, angka kemiskinan riil, atau perbandingan indikator pembangunan — karena semua itu membutuhkan cognitive effort yang jauh lebih besar dari para penonton.
Sementara otak manusia cenderung memilih stimulus yang menghibur dan mudah diproses (cognitive ease — Kahneman, 2011). Maka konten teatrikal selalu menang dalam memperebutkan atensi publik vis-à-vis data dan analisis.
❗️ Dengan kata lain: gimmick bukan hanya hiburan, ia adalah mekanisme pengalihan isu — dan semakin kosong rekam jejak prestasi seseorang, semakin tinggi intensitas gimmick yang dibutuhkannya — bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai perisai dari pertanggungjawaban.
.
⚠ Tiga mekanisme di atas — humanisasi persona, eksploitasi algoritma, dan pengalihan isu substantif — bukan terjadi secara terpisah. Ketiganya bekerja sebagai satu ekosistem strategi yang saling menopang. Jadi yang paling perlu diwaspadai bukan tokohnya, melainkan kita sebagai audiensnya: selama kita lebih tertarik mendebat gimmick daripada mengevaluasi kinerja, selama itu pula strategi ini akan terus bekerja — dan terus menguntungkan mereka yang "zonk prestasi".
Demikian, setuju atau tidak, paling tidak kita sudah berpikir. 😉

Komentar
Posting Komentar