Apa Manhaj Penguasa UEA?

Ada yang bertanya apa sih manhaj penguasa Uni Emirat Àrab (UEA)… maka jawabannya tidak sesederhana A atau B…


Kenapa…?

Mari kita bahas…

Secara teologi, Penguasa UEA, yaitu keluarga an-Nahyān dan keluarga al-Maktūm, mereka itu adalah Aṡàriyy – Mālikiyy, yang terlihat pada kecondongannya terhadap "Islām Tradisional" yang sangat akomodatif terhadap tradisi lokal dan taṣowwuf moderat. Namun mereka menolak taqlīd pada mażhab Mālikiyy dan juga menolak paham Aṡàriyyah yang berlebihan dalam menggunakan filsafat/kalam.

Adapun secara politik, Penguasa UEA mengadopsi "Manhaj Madāḳilah" (baca: PENDAKU Salafiyy) dan sangat mendukung ṣifat "quietism" dari PENDAKU Salafiyy tersebut.

Kenapa?

☠ Pertama, tentu saja karena doktrin "as-Samù waṭ-Ṭōàh" (arti: mendengar & taat) yang dipahami secara sesat. Sekte Madāḳilah (dan juga Ḥalabiyyah) seperti kita ketahui mendoktrinkan ketaatan mutlak tanpa reserve terhadap penguasa (Waliyyul-Amr), sehingga mereka melarang keras:
- pembentukan partai politik (dianggap sebagai memecah-belah),
- kritik terbuka (dianggap sebagai ġībah), dan tentu saja
- demonstrasi (dianggap sebagai buġōt atau pemberontakan).

Implementasinya adalah materi ḳutbah Jumàt wajib mengambil apa yang disusun oleh AWQAF (otoritas resmi keagamaan) yang mana selalu menyelipkan pesan tentang pentingnya stabilitas nasional dan kesetiaan kepada penguasa.

Selain itu siapa pun yang mencoba memobilisasi massa melalui narasi agama di luar jalur ini akan dianggap melanggar Ḥukum Negara yang dicitrakan sebagai Ḥukum Ṡarīàh.

☠ Kedua, Penguasa UEA menggunakan diksi "ḳowārij" untuk membendung dan melawan musuh-musuh politiknya. Narasi Ḳowārij dari kaum Madāḳilah & Ḥalabiyyah digunakan untuk membendung gerakan Islām Politik (seperti: al-Iḳwānul-Muslimīn dan aktivis pro demokrasi) yang dianggap sebagai ancaman terbesar bagi stabilitas kerajaan.

Jadi PENDAKU Salafiyy itu memang dijadikan sebagai "alat stabilitas" karena manhaj PENDAKU Salafiyy "model ini" sangat efektif untuk menjaga keamanan nasional (baca: melanggengkan penguasa lalim) karena doktrinnya yang melarang kritik publik, pembentukan parpol, demonstrasi, apalagi pemberontakan.

Buktinya ùlamā’ yang didukung UEA sering menyebut aktivisme politik atau gerakan "Àrab Spring" sebagai bibit-bibit pemikiran Ḳowārij yang harus dibasmi karena merusak tatanan sosial kenegaraan. Dengan menggunakan label "Salafiyy" mereka bisa mendelegitimasi lawan politik secara religius.

Hal ini juga tampak sekali pada aliansi Geopolitik Penguasa UEA dengan kelompok-kelompok pemberontak dari sekte PENDAKU Salafiyy (yang sangat anti dengan al-Ikhwānul-Muslimīn) di berbagai negara, terutama yang tengah berkonflik.

Contohnya adalah di:
⑴. Mesir, Penguasa UEA mendukung coup d'état oleh Àbdul-Fattāḥ as-Sīsiyy terhadap Presiden Muḥammad Mursī رحمه اللـه تعالى yang berasal dari al-Ikhwānul-Muslimīn.
⑵. Libya, Penguasa UEA mendukung kelompok pemberontak yang sangat kejam, yaitu Ḳolīfah Ḥaftar, yang salah satu pendukung terkuatnya adalah milisi sekte Madāḳilah seperti: Liwā-u Subulis-Salām, Katībah 604, Liwā-ut-Tauḥīd, dan Liwā-ul-Wādī.
⑶. Yaman, Penguasa UEA mendukung, melatih, dan mendanai kelompok-kelompok pemberontak seperti Lawā-ul-Àmāliqoh (Brigade al-Àmāliqoh) yang adalah sekte Madāḳilah.
⑷. Sudan, Penguasa UEA mendukung kelompok pemberontak RSF yang salah satu faksi pendukungnya adalah "Jamāàtu Anṣōri as-Sunnati al-Muḥammadiyyah" dari sekte Madāḳilah.

Walau Penguasa UEA sangat mempromosikan tokoh ṣūfi seperti Àliyy al-Jufriyy untuk diplomasi publik, namun mereka memberikan ruang yang sangat luas bagi narasi-narasi PENDAKU Salafiyy, baik sekte Madāḳilah maupun Ḥalabiyyah, di media-media sosial terutama untuk menekankan larangan kritik & demonstrasi (unhinged loyalty). Hal ini menciptakan "pagar betis" bagi kerajaan dari ancaman gerakan grassroot.

Jadi Penguasa UEA tidak ingin negaranya menjadi "Salafiyy" secara penampilan (seperti cadar atau pelarangan musik dan minuman keras), akan tetapi mereka sangat menginginkan rakyatnya memiliki mentalitas "PENDAKU Salafiyy" dalam hal ketaatan kepada raja.

Demikian, semoga bermanfaat.

.

📖 RUJUKAN
- Joas Wagemakers (2016). "Salafism in the Gulf States". The Oxford Handbook of Contemporary Middle-Eastern and North African History.
- Alexander Thurston (2018). "Salafism in Nigeria: Islam, Preaching, and Politics". Cambridge University Press.
- Courtney Freer (2018). "Rentier Islamism: The Influence of the Muslim Brotherhood in Gulf Monarchies". Oxford University Press.
- Frederic Wehrey (2018). "The Burning Shores: Inside the Battle for the New Libya". Farrar, Straus and Giroux.
- Zoltan Pall (2019). "Can the 'Unpolitical' Be Political? Salafism within the Context of the UAE's Foreign Policy". Journal of Arabian Studies.
- David Warren (2021). "Rivals in the Gulf: Yusuf al-Qaradawi, Abdullah Bin Bayyah, and the Strategy of Quietism and the State in the Age of the Arab Spring". Edinburgh University Press.
- K Biermann & K Kausch (2021). "The UAE's 'Moderate Islam' Branding". Middle East Policy.
- International Crisis Group (ICG) (2024). "Sudan: A War of Survival".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!

Selektif Dalam Mencari Guru – Sebuah Tinjauan

Membeli Karena Kasihan?