Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Apa Manhaj Penguasa UEA?

Gambar
Ada yang bertanya apa sih manhaj penguasa Uni Emirat Àrab (UEA)… maka jawabannya tidak sesederhana A atau B… Kenapa…? Mari kita bahas… Secara teologi, Penguasa UEA, yaitu keluarga an-Nahyān dan keluarga al-Maktūm, mereka itu adalah Aṡàriyy – Mālikiyy, yang terlihat pada kecondongannya terhadap "Islām Tradisional" yang sangat akomodatif terhadap tradisi lokal dan taṣowwuf moderat. Namun mereka menolak taqlīd pada mażhab Mālikiyy dan juga menolak paham Aṡàriyyah yang berlebihan dalam menggunakan filsafat/kalam. Adapun secara politik, Penguasa UEA mengadopsi "Manhaj Madāḳilah" (baca: PENDAKU Salafiyy) dan sangat mendukung ṣifat "quietism" dari PENDAKU Salafiyy tersebut. Kenapa? ☠ Pertama, tentu saja karena doktrin "as-Samù waṭ-Ṭōàh" (arti: mendengar & taat) yang dipahami secara sesat. Sekte Madāḳilah (dan juga Ḥalabiyyah) seperti kita ketahui mendoktrinkan ketaatan mutlak tanpa reserve terhadap penguasa (Waliyyul-Amr), sehingga mereka melarang k...

Salaf Tak Mengkritik Penguasa di Depan Publik?

Gambar
Oknum ini demi melindungi junjungannya, para penguasa lalim, ia mengatakan bahwa mengkritik penguasa di depan publik itu bukanlah aḳlāq dari para Salaf. ❓ Maka pertanyaannya, benarkah pernyataan demikian? Mari kita buka kitāb-kitāb sejarah… 🔵 Ùbādah ibn aṣ-Ṣōmit al-Anṣōriyy رضي اللـه تعالى عنه (komandan satuan pasukan sekaligus Ṣoḥābat Rosūlullōh ﷺ) pernah mengikuti ekspedisi militer di bawah pimpinan Muȁwiyah ke wilayah Byzantium. Di sana, ia melihat orang-orang saling jual-beli potongan emas dengan Dīnār, dan potongan perak dengan Dirham. Maka Ùbadah pun berpidato di depan umum: يا ايها الناس انكم تاكلون الربا سمعت رسول اللـه ﷺ يقول: لاَ تَبْتَاعُوا ٱلذَّهَبَ بِٱلذَّهَبِ إِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ لاَ زِيَادَةَ بَيْنَهُمَا وَلاَ نَظِرَةَ (arti) _“Wahai manusia, kalian ini sedang memakan ribā! Aku mendengar langsung Rosūlullōh ﷺ bersabda: "Janganlah menjual emas dengan emas kecuali sama nilainya, tidak boleh ada tambahan dan tidak boleh ada penundaan serah terima."”_ M...

Mengkritik Korupsi Tak Menunggu Suci

Gambar
Pernyataan opini pada screenshot terlampir sepintas tampak sebagai seruan moral untuk introspeksi. Namun pada hakikatnya, ia mengandung kesesatan berpikir yang bertentangan dengan Manhaj al-Qur-ān & as-Sunnah, yang menjadi alat klasik untuk membungkam kritik terhadap keẓōliman penguasa oleh para ngustad PENDAKU Salafiyy yang beràqīdah Neo Murji-ah. Di mana letak sesatnya? Mari kita bahas… 🔴 Tak harus "menunggu suci" untuk mengkritik – "Tu Quoque Fallacy" Secara logika, pernyataan tersebut adalah bentuk "tu quoque fallacy" (whataboutism), padahal validitas sebuah argumen —dalam hal ini korupsi merusak bangsa & negara— adalah kebenaran objektif yang tidak bergantung pada moralitas orang yang mengucapkannya. Jika syarat untuk melawan kemungkaran adalah "kesempurnaan moral", maka takkan ada ḥukum yang tegak di muka bumi, sebab bukankah Baginda Nabiyy ﷺ mengatakan: "كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ" (arti: setiap anak keturunan Ādam adala...

Muslim Pantang Jadi Ṡaiṭōn Bisu

Gambar
Lagi-lagi si Pudel membuat narasi opini yang sesat & menyesatkan sebab mengandung kerancuan ṡubhāt yang sangat fatal menyamaratakan antara "kritik terhadap kebijakan publik" dengan "celaan terhadap pribadi", sekaligus juga talbīs untuk membungkam amar ma`rūf nahyi munkar dengan dalih "aḳlāq" yang disalahpahami. Mari kita bahas… . 🔴 Strawman Fallacy Si Pudel membangun premis palsu bahwa setiap orang yang mengkritik penguasa adalah orang yang "hobby menjatuhkan kehormatan". Ini adalah kecacatan logika yang parah. Ada perbedaan mendasar antara "menghina fisik / pribadi" (yang dilarang) dengan "mengoreksi keẓōliman / kebijakan" (yang justru diwajibkan!). Mengkritik kebijakan penguasa yang menyengsarakan rakyat atau bertentangan dengan ṡarīàh bukanlah "hobby menjatuhkan kehormatan", melainkan bentuk kepedulian terhadap agama dan nasib kaum Muslimīn. Sederhana saja, jika seorang sopir bus ugal-ugalan dan membahayakan ...

Narasi "Pemimpin Ẓōlim Cerminan Rakyat" = Menyesatkan!

Gambar
Si Pudel lagi-lagi membuat narasi opini menyesatkan dengan mengklaim bahwa pemimpin ẓōlim hanyalah cerminan dosa rakyat. Walau itu terdengar sangat religius karena ditambahkan banyak perkataan ùlamā’, namun secara dalīl, sejarah, dan logika, ia bermasalah besar! Sebenarnya saya telah beberapa kali membuat bantahan terhadap narasi opini model begini, yaitu: 🔗 https://www.facebook.com/share/p/1HSGqD4Vqo/ 🔗 https://www.facebook.com/share/p/1UWuM3Bhdx/ Namun baiklah kita bahas lagi di mana letak masalahnya… ⑴. Kelemahan fondasi dalīl Ḥadīṫ "كَمَا تَكُونُوا يُوَلَّى عَلَيْكُمْ" (arti: sebagaimana keadaan kalian, demikianlah kalian dipimpin) yang diriwayatkan oleh al-Baihaqiyy dan ad-Dailamiyy dinilai ḍoȉf oleh Muḥammad Nāṣiruddīn al-Albāniyy di dalam Silsilah al-Aḥādīṫ aḍ-Ḍoȉfah no 320 di mana Beliau menegaskan kelemahan ḥadīṫ ini secara riwayat dan secara makna ia bertentangan dengan fakta sejarah di mana pemimpin ẓōlim bisa muncul di tengah rakyat yang baik. . ⑵. Ẓōlimnya peng...

Meluruskan Fiqh Mas-ūliyyah

Gambar
Membaca komentar sesengustad gerombolan Neo Murji-ah PENDAKU Salafiyy ini lagi-lagi membuat saya tertawa miris – 🔗 TKP: https://www.facebook.com/share/p/1C1fRFuW2D/ Bagaimana tidak? Narasi yang dibangun bahwa "Presiden takkan ditanya karena ini faktor alam" adalah sebuah "tadlīs ìlmiyy" (pengaburan fakta ìlmiyyah) dan kekeliruan fatal dalam memahami fiqh siyāsah. Mari kita bahas… 🔴 Pertama, sesat pikir dalam definisi mas-ūliyyah (tanggung-jawab) Pertanyaan "apakah Presiden ditanya di Āḳiroh?" tak bisa dijawab secara simplistis hanya dengan menyalahkan curah hujan. Di dalam qōìdah fiqh disebutkan: "المباشر ضامِن وإن لم يتعمد ، والمتسبب لا يضمن إلا بالتعدي" – pelaku langsung menanggung (risiko), sedangkan pihak penyebab menanggung jika ada taàddiyy (pelanggaran / melampaui batas). Presiden memang bukan "al-mubāṡir" (pelaku langsung) yang menurunkan hujan, akan tetapi ia memegang posisi sebagai "al-mutasabbib" (penyebab) melalu...

Kritik Penguasa = Ġībah?

Gambar
Lagi-lagi si Pudel, ngustad gerombolan Neo Murji-ah, membuat kesalahan fatal dalam tulisan opininya karena menyamakan secara mutlak kritik terhadap kebijakan publik dengan ġībah / menggunjing àib pribadi. ❓ Di mana letak salahnya? Mari kita bahas... 🔴 Pertama, keliru dalam memahami definisi ġībah – "Bantahan Poin 1 & 3" Si Pudel mengklaim mengkritik di luar dari di hadapan penguasa adalah ġībah yang ḥarōm. Padahal, para ùlamā’ sepakat bahwa ġībah itu memiliki pengecualian-pengecualian. Al-Imām Yaḥyā ibn Ṡarof an-Nawawiyy رحمه اللـه تعالى di dalam kitāb Riyāḍuṣ-Ṣōliḥīn (Bab al-Ġībah) menegaskan: الغيبة تباح لغرض صحيح شرعي (arti) _“Ġībah itu diperbolehkan untuk tujuan ṡarìyy yang benar yang tidak mungkin tercapai kecuali dengannya.”_ Beliau menyebutkan 6 kondisi ġībah yang dibolehkan, di 3 di antaranya adalah: ⑴. At-Taḥżīr: memperingatkan kaum Muslimīn dari keburukan. ⑵. At-Taẓollum: mengadukan keẓōliman. ⑶. Al-Istiȁnah: meminta bantuan untuk mengubah kemungkaran. ⇛ Kebija...

Rakyat Berdosa Tak Pantas Mengkritik Penguasa?

Gambar
Membaca narasi pada postingan Ngustad Pesbuk dari Gerombolan Neo Murji-ah sebagaimana screenshot terlampir ini sungguh membuat saya tertawa miris. Bagaimana tidak? Narasi itu mengandung cacat logika yang sangat fatal dari sisi Ṡarīàh sekaligus juga sangat manipulatif. Mari kita bahas… . ❌ Pertama, fallacy "pengalihan dosa" & "false equivalence" Logika ini membandingkan hal yang sama sekali tidak apple to apple. Dosa personal rakyat (seperti ġībah atau sū-uẓẓonn) adalah urusan aḳlāq individu, sedangkan keẓōliman penguasa (korupsi, kolusi, ketidakàdilan menetapkan hukum) adalah kejahatan struktural yang berdampak massal. Menjadikan dosa privat rakyat sebagai pembenaran atas keẓōliman penguasa adalah sesat pikir. Jika logika ini dipakai, maka setiap tiran bisa lolos dari tanggung jawab dengan alasan "rakyatnya juga tidak suci". Keẓōliman penguasa itu bersifat objektif — diukur dari kebijakan dan dampaknya terhadap nyawa & kesejahteraan orang b...

Manajemen Negara Berbasis "Kira-kira"

Gambar
Pernyataan "Saya kira rakyat masih tegar... saya disambut dengan sangat baik" asli membuat saya ternganga… Bagaimana tidak? Ini adalah sinyal masalah serius dalam tata kelola krisis di level tertinggi negara. Rakyat tegar atau tidak, sabar atau tidak, itu bukanlah objek tafsir perasaan, melainkan fakta sosial yang wajib dibaca dari angka & data. Ada empat kegagalan fatal dalam logika "saya kira" ini: ❌ Pertama, penguasa itu bukan pengamat perasaan – "Data vs Asumsi" Frasa "saya kira" adalah bahasa pengamat / komentator politik, bukan bahasa seorang pengelola negara. Seorang penguasa dalam negara modern tak digaji untuk menebak-nebak perasaan rakyat, akan tetapi wajib memastikan kondisi mereka. Pemerintah bekerja memakai angka & data dalam membuat kebijakan, bukan impresi kunjungan singkat. Dalam konteks pasca bencana, ketegaran rakyat memiliki indikator konkret, semisal: daya beli, ketersediaan pangan, sanitasi, hunian layak, dan akses te...

Logika Ekonomi Tak Boleh Membatalkan Ṡarīàh!

Gambar
Si Mantreee ini mengangkat wacana agar penyembelihan hewan dam bagi jamāàh ḥajji IDN dilakukan di Tanah Air dengan alasan "menyelamatkan devisa IDR 1trilyun" dan "agar dagingnya dinikmati rakyat sendiri" terdengar secara façade heroik & nasionalis. Namun, jika dibedah dengan pisau ìlmu fiqh dan logika ìbādah, usulan ini CACAT secara fundamental dan jelas MERUSAK keabsahan ìbādah hajji jamāàh IDN sehingga WAJIB kita tolak & tentang. Mari kita bahas kenapa… ❌ Pertama: melanggar naṣṣ al-Qur-ān dan ijmā` ùlamā’ kaum Muslimīn Jamāàh ḥajji IDN itu melaksanakan manasik ḥajji secara tamattu` (ùmroh dulu baru ḥajji), yang mana Ṡarīàh menetapkan kewajiban membayar "dam nusuk" sebagai sembelihan (hady) ìbādah (bukan denda). Ṡarīàh menetapkan tempat penyembelihan hady secara spesifik, yaitu di: Tanah Ḥarōm Makkah. 📌 Kata Allōh ﷻ di dalam firman-Nya: فَمَا ٱسۡتَيۡسَرَ مِنَ ٱلۡهَدۡىِ (arti) _“Maka sembelihlah hady yang mudah didapat.”_ [...

Kehebohan Bandara PIMI

Gambar
Ribut-ribut Bandara PIMI yang dituduhkan total kepada Sarimin sebenarnya tidak tepat. Kenapa…? Cobalah pelajari dulu, itu PIMI mulai beroperasi di April 2015, di mana pendirian / kesepakatan awalnya adalah di Oktober 2013 (penandatanganan pendirian kawasan terpadu) sementara pembangunannya sudah dimulai dari Juli 2013 (tiang pancang pembangunan pabrik pemurnian nikel pertama, PT SMI). Kemudian diresmikan di Mei 2015 oleh Sarimin. Intinya, proyek ini sudah berjalan, ditandatangani, dan dibangun jauh sebelum Sarimin masuk ke panggung Nasional. BTW, di 2013 itu siapa pretsindennya ketika itu…? Ya Si leBaY lah… Adapun soal bandara PIMI yang diributkan itu, makanya video-video yang katanya "bukti" kalau Sarimin meresmikannya, maka kalau kita perhatikan dengan seksama semua cuplikan yang dijadikan "bukti" sebenarnya tak merekam Bandara PIMI sama sekali: ❌ Background dari video yang katanya Sarimin meresmikan Bandara PIMI, maka itu adalah Bandara M di North M, bukan Banda...

Ketika Rakyat Menjarah

Gambar
Beredar berita rakyat di beberapa wilayah di Sumatera yang kelaparan karena terdampak banjir bandang menjarah minimarket, maka itu TIDAK BISA langsung disapu dengan satu vonis: kriminal. ❓ Kenapa...? Karena Ṡariàh memang memberi ruang bagi orang yang benar-benar terancam nyawanya (ḍorūroh) akibat bencana (ḥājah nāzilah) untuk mengambil makanan dari orang lain sekadar bertahan hidup (subsisten), yang mana itu setelah meminta bantuan tetapi ditolak atau bantuan tidak ada, atau ketika tak ada lagi pihak yang bisa dimintai izin. Jadi ḥukum asalnya BUKAN "penjarahan diperbolehkan", melainkan darurat yang dibenarkan sebatas kadar bertahan hidup — tidak lebih. Di dalam fiqih empat mażhab, para ùlamā’ fuqohā’ menempatkan kelaparan ekstrem sebagai keadaan yang menghapus ṣifat kriminal perbuatan dari pengambilan makanan tanpa izin. Mereka menyatakan bahwa pemilik makanan pada kondisi seperti itu WAJIB untuk membantu. Sedangkan apabila si pemilik makanan itu menolak, maka orang yang ter...

Beda Peran, Beda Tugas

Gambar
Membaca postingan terlampir ini sungguh itu adalah bentuk logika serampangan yang didasari oleh kebodohan prosedural yang hanya dilontarkan oleh orang beràqal lemah yang malas berpikir. Iya, bagaimana tidak? TNI dan PolRI itu memang punya mandat struktural: mereka adalah Aparat Negara yang digaji oleh Negara. Mereka memiliki komando, perlengkapan, serta kewajiban formal untuk turun ketika bencana terjadi. Ketika mereka turun dalam SAR dan mitigasi bencana, maka itu adalah tugas kedinasan, bukan aksi moral tambahan. Mereka menjalankan apa yang memang sudah menjadi kontrak profesionalnya — bukan kemurahan hati ekstra yang layak dijadikan bahan propaganda politik. Adapun membandingkan peran terstruktur aparat dengan mahasiswa yang tidak punya sumber daya, tidak punya pelatihan SAR, dan bahkan tidak punya kewajiban formal, jelas tidak logis dan tidak setara. Mahasiswa turun ke jalan adalah bagian dari fungsi sosial mereka sebagai civil society, bukan unit SAR. Mereka mengawasi kekuasaan, m...

Banjir Karena Pamer Àurot & Joget di TikTok?

Gambar
Membaca postingan Mr Ngustad ini saya asli miris, bagaimana tidak? Kok ya penyebab muṣībah selalu ditimpakan hanya kepada rakyat semata? Coba ya, di dalam Ṡarīàh, yang namanya muṣībah itu selalu punya dua jenis sebab, yaitu: ⑴. Sebab Ṡarìyyah, yaitu sebab yang terkait dengan dosa, kelalaian, dan keẓōliman manusia. ⑵. Sebab Kauniyyah, yaitu sebab yang terkait ḥukum alam yang Allōh ﷻ tetapkan sejak awal penciptaan, semisal: hidrologi, pergeseran lempeng, dan ekosistem. ⚠ Kedua sebab ini wajib diterima bersama, sedangkan menghapus salah satunya berarti menolak sebagian Sunnatullōh. ❌ Oleh karena itu adalah keliru berat apabila ada yang mengatakan bahwa banjir, gempa, atau bencana besar itu bukan karena sebab alamiah, akan tetapi karena perempuan pamer àurot atau joget-joget di TikTok. Kenapa? Karena itu adalah kekacauan berpikir yang mengacaukan dua jenis sebab: ⒜. Menolak Sunnatullōh Kauniyyah, sekaligus ⒝. Menduga-duga kehendak Allōh tanpa dalīl ṡarìyy. Padahal, Baginda Nabiyy ﷺ tak per...

Sawit = Tanaman Juga?

Gambar
☠ Ada yang ASBUN bilang kalau sawit = tanaman juga sehingga tidak masalah melakukan deforestasi. Saya langsung tak habis pikir, untuk seseorang yang digadang-gadang sangat cerdas, namun bicara sesuatu yang anak IPB tahun pertama juga tahu kalau: ⑴. Banyak kebun sawit (terutama yang illegal) dibuka dengan cara membakar hutan, kemudian mencangkul sedikit untuk tanam bibit. Pembakaran lahan itu mengakibatkan unsur organik tanah hilang dan tanah jadi hidrofobik (anti-air) setelah kebakaran hebat. Sehingga ketika hujan deras air tak lagi diserap → air langsung lari di permukaan → banjir. ⑵. Hutan hujan tropis itu punya akar kompleks (bertingkat), tanah yang kaya humus, lapisan serasah tebal, dan struktur tanah yang menyerap air seperti spons. Adapun ketika hutan dibabat jadi kebun sawit, maka lapisan tanah hilang, akar besar hilang, serasah hancur, pori tanah rusak. Akibatnya jelas: air hujan tak lagi meresap → air langsung mengalir cepat ke sungai → debit puncak naik → banjir. ⑶. Sec...

Lagi-lagi Ruwaibiḍoh Bicara Geopolitik & Ekonomi Politik

Gambar
Saya sudah lama tak menanggapi tulisan oknum ngustad gerombolan Neo Murji-ah Zionist Mengaji ini, namun barusan sahabat saya menanyakan tentang bagaimana logika dari postingannya itu (terlampir). Baiklah, mari kita bahas… Logika bahwa "Amrik (USA) tunduk karena punya utang ke Suȕdiyy (SAU)" adalah logika yang sangat "konyol & ngaco", baik secara Geopolitics maupun secara Political Economics – well, frankly speaking, what do you expect from someone yang pastinya belum pernah baca "Principles of Macroeconomics"-nya Mankiw, "International Economics: Theory and Policy"-nya Krugman, "International Political Economy"-nya Oatley, atau "Analyzing Politics: Rationality, Behavior, and Institutions"-nya Shepsle. Di mana letak "konyol dan ngacoan"nya itu…? ❌ Pertama, proporsi piutang SAU yang "kecil" (drop in the bucket) Meskipun angka USD 111,7milyar (2023) – data terbaru di September 2025 adalah USD 134milyar – i...