Tidak Semua Ṡiàh Kāfir?

Mirisnya banyak yang nekad mengatakan bahwa "tidak semua Ṡīàh itu kāfir" atau "tidak semua Ṡīàh itu Rōfiḍoh", akan tetapi mereka tidak betul-betul tahu yang mana yang kāfir dan yang mana yang masih Muslim. Mana Ṡīàh yang bahkan Ahlus-Sunnah, dan mana Ṡīàh yang muslim tapi sesat karena Ahlul-Bidàh kelas berat.


So, mari kita bedah satu-satu secara ringkas tentang apa-apa saja varian Ṡīàh yang umum ditemui / diketahui:

.

⑴. Taṡayyu`
Taṡayyu` dalam bahasa Àrab artinya "condong". Condong di sini bisa dalam 2 hal, yaitu mencintai dan mengutamakan Ahlul-Bait (keluarga Nabiyy ﷺ) di atas seluruh Ṣoḥābat lainnya, namun tetap mengakui keabsahan keḳolīfahan Abū Bakr, Ùmar, dan Ùṫmān رضي اللـه تعالى عنهم.

Ada juga taṡayyu` yang condong dalam hal politik, yaitu secara politik berpihak kepada Àliyy ibn Abī Ṭōlib رضي اللـه تعالى عنه dalam konflik melawan Muȁwiyah رضي اللـه تعالى عنه, namun àqīdah dan praktek Rukun Islām mereka tetap persis sama dengan kaum Ahlus-Sunnah. Mereka sama sekali tidak meyakini konsep "Imāmah".

Kaum Taṡayu` ini adalah Ahlus-Sunnah 100%, adapun sekarang mereka bisa dikatakan sudah tak ada lagi.

.

⑵. Zaidiyyah
Sekte Zaidiyyah dinisbatkan kepada pengikut dari Zaid ibn Àliyy ibn al-Ḥusain, dan disebut sebagai kelompok Ṡīàh yang paling dekat dengan Sunniyy. Mayoritas ùlamā’ tidak mengkāfirkan mereka, karena mereka tidak menuduh hal yang keji kepada Ibunda Ȁiṡah رضي اللـه تعالى عنها, tidak menganggap al-Qur-ān mengalami distorsi, dan tidak mengkāfirkan para Ṣoḥābat رضي اللـه تعالى عنهم. Meskipun kaum Zaidiyyah ini menganggap lebih utama Àliyy, namun mereka tetap mengakui keabsahan keḳolīfahan Abū Bakr & Ùmar ضي اللـه تعالى عنهما walau menganggapnya kurang utama (konsep Imāmatul-Mafḍul).

Adapun Ḥūṫiyyūn adalah gerakan politik dan militer di Yaman dari kaum Zaidiyyah. Walaupun secara akar mereka adalah dari sekte Zaidiyyah, namun secara politik, àqīdah, dan praktik ìbādah mereka telah banyak mengadopsi elemen-elemen dari sekte al-Iṫnā Àṡariyyah (Twelvers) / Rōfiḍoh. Akibatnya, para ùlamā’ kontemporer mengatakan selama mereka masih memegang prinsip Zaidiyyah yang murni, mereka tidak dikāfirkan. Akan tetapi kalau mereka mengadopi tradisi mencela Ṣoḥābat yang berasal dari tradisi sekte Rōfiḍoh, atau menganggap al-Qur-ān telah terdistorsi, maka mereka adalah kāfir.

.

⑶. Rōfiḍoh / al-Iṫnā Àṡariyyah (Twelvers)
Rōfiḍoh sebenarnya adalah sebuah istilah (sebutan), bukan nama sekte formal, namun seringkali digunakan untuk merujuk kepada sekte Ṡīàh al-Iṫnā Àṡariyyah (Dua Belas Imām). Asalnya adalah karena mereka "menolak" (rofaḍo) kepemimpinan Abū Bakr dan Ùmar رضي اللـه تعالى عنهما serta menolak Imām Zaid ibn Àliyy.

Para ùlamā’ klasik membedakan status antara orang àwāmm Rōfiḍoh dengan tokoh-tokoh / pentolan Rōfiḍoh. Secara umum, àwāmm Rōfiḍoh dianggap sebagai ahlul-bidàh (mubtadi`) kelas berat. Sedangkan vonis kāfir secara individu hanya dijatuhkan apabila seorang Rōfiḍoh itu sadar meyakini dan atau melakukan hal-hal yang membatalkan keislāman (nawāqiḍul-islām) seperti mengkāfirkan seluruh Ṣoḥābat Nabiyy رضي اللـه تعالى عنهم, menuduh al-Qur-ān sudah tidak asli lagi atau ada yang dikurangi, atau menuduh Ibunda Ȁiṡah رضي اللـه تعالى عنها melakukan zinā.

Hampir semua Rōfiḍoh ini sekarang dari Iran, Ìraq, dan Lebanon. Ṡīàh yang menyebar ke seluruh penjuru dunia (termasuk ke Nusantara) adalah dari kalangan sekte Rōfiḍoh ini. Tidak percaya? Sebutkan kalau bisa siapa tokoh Ṡīàh baik dari Iran, Ìraq, dan Lebanon (kelompok Hezbollah), maupun Indonesia, yang bukan dari sekte Rōfiḍoh.

.

⑷. Ismāȉliyyah / Bāṭiniyyah
Kelompok ini merupakan cabang dari Ṡīàh yang ekstrem dan esoteris. Mayoritas ùlamā’ klasik dan kontemporer mengeluarkan mereka dari Islām sama sekali. Sebab mereka meyakini adanya makna bāṭin dalam al-Qur-ān yang menggugurkan Ṡarīàh (seperti ṣolāt, ṣoum, zakāh) yang mereka anggap hanya simbol. Saat ini Ismāȉliyyah terbagi dalam beberapa faksi, seperti Nizāriyyah dan Buhroh (yang memiliki beberapa cabang lagi seperti Dāwūdiyyah, Sulaimāniyyah, dan Àlawiyyah), di mana àqīdah dan praktik ritual keagamaan mereka berbeda-beda.

Penganut sekte ini kebanyakannya ada di India dan Pakistan, dan biasanya mereka terkait etnis kesukuan.

.

⑸. Nuṣoiriyyah
Sekte adalah sempalan dari kelompok Bāṭiniyyah, yang oleh para ùlamā’ kaum Muslimīn, kelompok Nuṣoiriyyah sudah dianggap kāfir tulen. Bahkan oleh banyak pemuka sekte Rōfiḍoh, sekte Nuṣoiriyyah ini dianggap kāfir.

Penganut sekte ini Nuṣoiriyyah adanya di Sūriyā, yang dikenal dengan nama "Àlawiyyah". Tokoh sekte ini pernah menjadi rezim penguasa di Sūriyā.

.

Memang label "Ṡīàh" itu bukanlah satu warna yang seragam. Namun, sebagai Muslim yang berpegang pada manhaj Ahlus-Sunnah, kewaspadaan terhadap infiltrasi àqīdah yang merusak kehormatan Ṣoḥābat رضي اللـه تعالى عنهم dan kesucian al-Qur-ān adalah sebuah keharusan. Berbicaralah dengan ìlmu, atau diam juga berdasarkan ìlmu, karena ìlmu adalah benteng terbaik agar kita tidak mudah terombang-ambing oleh ṡubhāt politik maupun teologis yang sering kali dikemas dengan bahasa-bahasa yang mengaburkan kebenaran.

Ingatlah bahwa setiap lisan kita dalam perkara pengkāfiran seseorang yang muslim —atau sebaliknya menganggap muslim seseorang yang kāfir— kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allōh ﷻ.

Demikian, semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!

Selektif Dalam Mencari Guru – Sebuah Tinjauan

Umbar Àib di Pengajian