Ingatkan Siapa Majikan di Republik Ini!

Pertama kali saya memasuki dunia kerja, before the turn of this century, saya mendengar nasihat dari boss saya, "You don't come to your boss with problem, you must also come with solution".


Di situ saya diberi pemahaman, bahwa sebagai pegawai, saya dibayar oleh perusahaan untuk bekerja dan memberi solusi atas permasalahan. Kedudukan saya adalah PEKERJA alias "budak korporasi".

Namun ketika ada BejatBad yang mengatakan hal yang sama, menuntut rakyat datang tidak hanya dengan masalah tapi dengan solusi, asli saya MUAK dengan para BejatBad itu.

Bagaimana tidak?

Apa para BejatBad lupa siapa yang sebenarnya "tuan" dalam hal ini?

Rakyat itu adalah "tuan" di republik ini, sedangkan para BejatBad itu adalah "orang gajian". Namanya saja "civil servant".

Iya, para BejatBad digaji oleh rakyat dari uang yang dikumpulkan dari pajak! Pajak itu adalah "biaya jasa" yang sudah dibayar di muka agar para BejatBad itu bekerja memikirkan solusi.

Jadi jangan pernah katakan rakyat "hanya omon-omon". Rakyat berkontribusi secara nyata lewat setiap rupiah pajak yang dipotong dari gaji, dari setiap liter bensin yang dibeli, hingga dari setiap piring nasi yang dimakan. Jika para BejatBad itu tidak mampu memberikan solusi, maka merekalah yang sebenarnya "omon-omon" tapi tetap makan gaji buta dari uang rakyat!

Ingat bahwa adalah para BejatBad itu yang minta dipilih, mereka yang mengemis suara rakyat agar dipilih. Lalu sekarang menyuruh rakyat datang dengan solusi?

Secara logika ini juga sungsang, sebab yang memiliki akses ke data intelijen, data makro ekonomi, punya ribuan staf ahli bergelar doktor sampai professor, punya badan penelitian yang dibiayai negara memangnya siapa?

Sementara rakyat hanya punya "keresahan" di lapangan. Meminta rakyat memberikan solusi teknis yang nyata itu ibarat dokter yang membentak pasien: "Jangan cuma mengeluh sakit perut, kasih saya diagnosis medis dan resep obatnya kalau kamu pintar!", padahal pasien sudah bayar biaya konsultasi yang mahal.

Jadi itu jelas: "Muke lu jauh?!?"

Sekali lagi, adalah para BejatBad itu yang harus bekerja keras untuk mencarikan solusi bagi permasalahan rakyat.

Kalau rakyat mengkritik, maka dalam sistem kenegaraan, kritik rakyat adalah alarm. Tugas alarm adalah berbunyi saat ada asap (bahaya). Sedangkan tugas pemadam kebakaran adalah mencari sumber api dan memadamkannya. Adalah sangat konyol jika petugas pemadam kebakaran malah membentak alarmnya: "Mana APARmu? Jangan cuma berisik!".

Kalau rakyat harus punya solusi untuk setiap masalah, buat apa itu kementerian dan berbagai lembaga negara?

Kalau sudah tak mampu memberi solusi bagi rakyat, ya mundur saja! Tak ada yang memaksa para BejatBad itu untuk bertahan di kursi jabatannya hanya untuk magabut.

Demikian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!

Selektif Dalam Mencari Guru – Sebuah Tinjauan

Umbar Àib di Pengajian