Apel, Jeruk, dan Logika Kepleset

Perhatikan screenshot postingan terlampir. Idenya kira-kira begini: kalau USA yang mayoritas Naṣrōniyy bisa mengangkat pemimpin Muslim seperti Zohran Mamdani dan Abdul El-Sayed, maka IDN yang mayoritas Muslim mestinya juga bisa memilih pemimpin keturunan etnis China-Naṣrōniyy seperti a Hog, "bukan pemimpin Muslim seperti Anies". Katanya, itu baru "apples-to-apples".


Fakta tentang USA-nya benar. Mamdani memang Muslim (Ṡīàh Rōfiḍoh)*¹ pertama yang terpilih menjadi wali kota New York*², sedangkan El-Sayed baru saja memenangkan kursi Senat Michigan setelah mengalahkan Mike Rogers*³. Namun logikanya kepleset di beberapa poin.

Pertama, di ekor kalimatnya: "bukan pemimpin Muslim seperti Anies". Analogi USA paling jauh hanya mendukung kesimpulan bahwa IDN seharusnya terbuka pada pemimpin non-Muslim. Seolah-olah perbandingan baru sah disebut apple-to-apple kalau a Hog yang menang. Warga New York tak memilih Mamdani untuk menolak kandidat Naṣrōniyy. Kalau pelajarannya "pilih berdasarkan kapasitas, bukan agama", hasilnya bisa saja tetap Anies. Begitu pemenangnya ditetapkan berdasarkan agama ("harus non-Muslim, jangan Muslim"), postingan itu sedang mempraktikkan politik identitas yang justru ia kritik! 😩

Kedua, premis bahwa IDN "belum mampu" tersebut justru tak cocok dengan data. Non-Muslim di IDN bebas maju dalam kontestasi politik, dan tidak sedikit yang menang. Di Pilkada DKI 2017, a Hog justru juara putaran pertama dengan 42,99%, dan di putaran kedua masih meraup 42,05%*⁴. Di Solo, FX Hadi Rudyatmo menang Pilkada 2015 dengan sekitar 60% suara*⁵. Padahal 3 tahun sebelumnya FPI Solo terang-terangan menolaknya sebagai "kāfir"*⁶. Di Kalimantan Barat, Cornelis yang Katholik menjabat gubernur 2 periode di provinsi yang mayoritas penduduknya Muslim*⁷. Lebih baru lagi, di Pilkada 2024 Sherly Tjoanda, perempuan keturunan etnis China yang Naṣrōniyy, memenangkan Pilgub Maluku Utara dengan lebih dari separuh suara*⁸. Padahal 74,5% penduduk provinsi Malut itu Muslim, dan Sherly pun tercatat sebagai gubernur terpilih pertama keturunan etnis China di IDN*⁹.

Ketiga, USA pada kenyataannya tak "sebersih" yang digambarkan. Jalan para kandidat Muslim di sana bahkan jauh dari mulus. Mamdani dihajar gelombang serangan rasis dan Islamofobik dari para influencer MAGA*¹⁰. Trump sendiri bahkan menyebutnya komunis dan mengancam akan mendeportasinya*¹¹! 🧐

Jangankan Muslim, sesama Naṣrōniyy pun dulu dicurigai habis-habisan. Pada tahun 1928, Al Smith maju sebagai calon presiden Katholik pertama dari Demokrat, lalu kalah telak dari Herbert Hoover. Kampanye Smith diterpa tuduhan bahwa ia akan membangun terowongan dari Gedung Putih ke Vatikan dan mengamandemen konstitusi agar Katholik menjadi agama resmi negara*¹². Seorang pendeta Baptis di Oklahoma bahkan mengancam jamāàhnya bahwa memilih Smith sama saja dengan melawan Kristus dan bakal dila`nat*¹³. Tahun 1960, John F Kennedy (JFK) pun masih menghadapi sentimen yang sama. 150 pendeta Protestan menyatakan bahwa JFK takkan mungkin lepas dari kendali Gereja kecuali secara terang-terangan menolak ajarannya, sampai-sampai JFK harus berpidato khusus di hadapan Greater Houston Ministerial Association untuk menjawab kecurigaan itu*¹². Walhasil, USA butuh 184 tahun sejak merdeka untuk memilih presiden Katholik pertama, padahal Katholik itu masih sama-sama Naṣrōniyy! Toleransi di sana bukan bawaan lahir, melainkan hasil proses panjang. Bahkan sampai hari ini pun USA belum pernah punya presiden Muslim. 😏

Keempat, suatu pilkada tak bisa dibaca hanya dengan 1 variabel saja. Sepanjang masa kampanye 2017, a Hog sebagai petahana harus menjalani sidang perkara penodaan agama*¹⁴. Survei Indikator Januari 2017 mencatat sekitar 75% warga DKI puas atau sangat puas dengan kinerjanya*¹⁵. Namun LSI mencatat elektabilitasnya hanya 40,5% meski tingkat kepuasan mencapai 73,5%. Penelitinya menyebut selisih itu dipengaruhi karakter pribadi kandidat, faktor primordial terkait isu penistaan agama, dan faktor lain*¹⁶. Jadi kekalahan a Hog di 2017 tersebut bukanlah bukti tunggal intoleransi, sama seperti ia bukan soal kualitas kandidat semata. 🧐

Kelima, apelnya itu berbeda jenis. Konstitusi USA*¹⁷ melarang tes agama untuk jabatan publik, dan di sana tak dikenal wacana keagamaan arus utama yang menjadikan "dipimpin non-Naṣrōniyy" sebagai persoalan hukum agama. Di sini, bagi sebagian pemilih Muslim, kepemimpinan non-Muslim adalah persoalan fiqh yang mayoritas ùlamā’ fuqohā’ tetap melarangnya. Seorang Muslim yang berideologi liberal boleh setuju atau tidak dengan pendapat fiqh itu. Akan tetapi menyamakannya begitu saja dengan fanatisme pengikut Trump berarti tak mau repot memahami dari mana motif itu berasal. 😔

Keenam, pukul rata antara 212, FP Islām, HTI, dan "Anak Abah" dimasukkan ke dalam satu kolam. Padahal HTI menolak demokrasi sebagai sistem. Sedangkan Gerakan 212 terdiri dari berbagai unsur, dan sikap politik para pesertanya tidak selalu seragam. Jadi menyamakan mereka dengan jutaan pemilih Anies itu jelas kesalahan fatal. 😖

Lalu apple-to-apple yang benar seperti apa? 🤔

Kedua negara punya pemilih yang mau memilih kandidat minoritas dan pemilih yang menolaknya. Solo, Kalbar, dan Malut sepadan dengan New York dan Michigan. Kampanye anti a Hog sepadan dengan kampanye anti-Mamdani. Membandingkan kemenangan di sana dengan satu kekalahan di sini, lalu menyimpulkan "kita kalah toleran", sama saja dengan membandingkan apel pilihan dari etalase mereka dengan apel busuk yang ada di keranjang kita. 😏

Tetap ada satu pertanyaan yang layak dijawab jujur: apakah merayakan Abdul El-Sayed sambil menolak a Hog itu adalah "standar ganda"? Sebagian akan menjawab tidak. Merayakan hak setara minoritas untuk dipilih tak sama dengan kewajiban mayoritas untuk memilih minoritas. Dalam kerangka fiqh klasik pun aturannya mengikat pilihan Muslim sendiri, sehingga merayakan Muslim yang memimpin non-Muslim tak otomatis kontradiktif. Pengkritiknya akan bilang justru di situlah standar gandanya: hak istimewa untuk kelompok sendiri. Perdebatan ini sah dan layak diteruskan. Akan tetapi ia takkan selesai dengan analogi yang kepleset, apalagi dengan memasukkan semua lawan debat ke satu kolam bernama "pengikut Trump". 😵‍💫

…

📝 RUJUKAN

*¹ https://arcmag.org/?p=20514
*² https://keyt.com/?p=1404123
*³ https://apnews.com/article/michigan-senate-abdul-elsayed-mike-rogers-election-d546ffbcf04fbb4eb581f63f807a0609
*⁴ https://www.liputan6.com/hot/read/5659963/perbandingan-hasil-quick-count-pilkada-dki-2017-dan-real-count-kpud
*⁵ https://ejurnal.unisri.ac.id/index.php/Exsplorasi/article/view/1296/1134
*⁶ https://www.asia-pacific-solidarity.net/news/2012-09-26/hard-line-muslim-groups-not-ready-accept-infidel-jakartas-leader.html
*⁷ https://journal3.uin-alauddin.ac.id/index.php/shautuna/article/download/21282/12104
*⁸ https://manado.antaranews.com/berita/269455/pleno-kpu-tuntas-sherly-tjoanda-sarbin-pemenang-di-maluku-utara
*⁹ https://www.cna.id/indonesia/sherly-tjoanda-benny-laos-pilkada-maluku-utara-pilgub-gubernur-malut-sejarah-tionghoa-kristen-perempuan-24881
*¹⁰ https://www.axios.com/2025/06/25/zohran-mamdani-muslim-islamophobia-maga
*¹¹ https://www.thenationalnews.com/news/us/2025/07/11/zohran-mamdani-new-york-mayoral-elections-death-threats
*¹² https://www.jfklibrary.org/node/4846
*¹³ https://www.history.com/news/jfk-catholic-president
*¹⁴ https://www.vice.com/id/article/ahok-dan-anies-bertemu-di-putaran-dua-peluang-masih-sama-besar/
*¹⁵ https://tirto.id/indikator-politik-masyarakat-puas-dengan-kinerja-ahok-chGj
*¹⁶ https://tirto.id/lsi-mereka-yang-menilai-ahok-menista-agama-berkurang-ckj7
*¹⁷ https://www.archives.gov/founding-docs/constitution-transcript

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!

Tentang Nazar

Mereka Membuat Agama Baru!