Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2026

Lagi-lagi Nasionalisme Dipakai Secara Keliru

Gambar
Setelah Lutfi, Jonan, Bahlul, Dahnil, dan Meutya mengangkat isu "nasionalisme" untuk melawan Singapura (SGP) dalam perkara karhutla*¹, kini Muhammad Said Didu (MSD) mengajak rakyat Indonesia (IDN) untuk "berpikir jernih". Katanya SGP-lah yang butuh SBN kita, bukan sebaliknya. Alasannya sederhana. Bunga deposito di SGP di bawah 2%, yield SBN sekitar 7%, jadi warga SGP yang membeli SBN itu "untung" 5%, dan itu dibayar oleh rakyat IDN. Angkanya benar, deposito 12 bulan di bank-bank SGP bulan ini berkisar 1–2,1%*², dan yield SBN 10 tahun baru saja menembus 7,5%, tertinggi sejak Oktober 2022*³. Masalahnya, kesimpulan yang ditarik dari angka itu terbalik…! Bingung…? Begini ceritanya… Pertama, 2% dan 7% itu beda mata uang. Penabung SGP menghitung untung-rugi dalam Dollar Singapura (SGD), sedangkan SBN Rupiah dibayar dalam Rupiah (IDR). Sampai pertengahan Juni saja IDR sudah melemah 6,59% terhadap SGD*⁴. Selain itu, harga obligasi turun ketika yield naik, dan yiel...

No Makelar No Kontrak

Gambar
Lima tahun silam di Dubai Airshow, Indonesia (IDN) meneken kontrak pembelian 2 pesawat Airbus A400M, ditambah Letter of Intent (LoI) untuk 4 unit tambahan*¹. Kedua unit itu sudah tiba di Tanah Air dan bahkan sudah ikut berbagai operasi kemanusiaan. Adapun yang jadi pertanyaan, bagaimana dengan 4 unit sisanya? Dokumen Rencana Kebutuhan Alpalhan 2025-2029 milik Kemenhan sendiri jelas mencantumkan adanya tambahan A400M minimal 2 unit, namun sampai dengan hari ini Kemenhan belum juga menunjukkan tanda-tanda mau melakukan pemesanan ulang*². Ini tentunya menjadi tanda tanya, sebab sejak November 2025 Presiden sendiri sudah memberi sinyal mau negosiasi*³. Apalagi LoI 4 unit tambahan itu SANGAT MENGUNTUNGKAN bagi IDN: kalau totalnya genap 6 unit, perusahaan Airbus bersedia menyerahkan autonomous right CN235 kepada PT Dirgantara Indonesia. Artinya, center wing, nose fuselage, dan nose landing gear yang sejak 1986 dibuat di Spanyol (ESP) akhirnya bisa dibikin sendiri di Bandung*² *⁴. Ongkosnya? ...

Jangan Ada Isu Negatif Lagi, Katanya…

Gambar
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan: "Jangan lagi ada isu negatif di sekitar ponpes, manakala ada ponpes menyimpang, pemerintah tak segan ambil tindakan tegas.". Ia juga mengingatkan bahwa marwah dan citra ponpes tergantung kepada para pengelolanya.*¹ Ini jelas framing jahat terhadap institusi pesantren! 😡 Bagaimana tidak? Perkataan itu keluar 3 hari setelah penggerebekan yang sedang ramai dikecam. Selasa, 27 Oktober, sekitar pukul 03:20, aparat gabungan menggeledah asrama santriwati Hamalatul Qur’an di Mojolaban, Sukoharjo. Menurut surat edaran yang dibuat pengelola, pintu didobrak oleh aparat bersenjata laras panjang saat 12 santriwati usia 10–16 tahun dan 4 ustāżah sedang tidur. Mereka ditarik keluar tanpa sempat berjilbab. Lalu 15 orang, termasuk 2 balita, dibawa ke Polsek dan Polres tanpa waliyy maupun kuasa hukum. Komnas HAM menilai cara itu tidak proporsional dan tidak sensitif gender.*² Alasan Polisi: bagian dari penyidikan kasus pembakaran warung Mi Babi Tepi S...

Standar Ganda PENDAKU Salafiyy

Waktu Ma`had Hamalatul Qur'an, pesantren putri di Mojolaban, Sukoharjo, digerebek pagi dini hari, belasan santriwati dan ustāżahnya diangkut dan pondoknya digeledah, para PENDAKU Salafiyy itu bukannya prihatin tetapi malah sibuk membenarkan keẓōliman itu dengan menyebarkan vonis: "Itu pesantren Ḳowārij!"… 🫵 Seakan-akan begitu sudah distempel Ḳowārij, maka perlakuan ẓōlim apa pun menjadi ḥalāl. Padahal ujung-ujungnya Polisi sendiri memulangkan mereka semua karena tak menemukan bukti keterlibatan. Sedangkan Kapolres beserta tiga perwiranya dinonaktifkan dan diperiksa oleh Propam Mabes Polri. Vonisnya sudah telanjur tersebar, buktinya nihil. 🤷‍♂️ Lalu giliran jagoan mereka, Herri Pras, digeruduk dan ditendang di depan rumahnya sendiri. Eh, mendadak para PENDAKU Salafiyy itu berubah jadi aktivis HAM… Muncul komentar-komentar: "Ini persekusi!", "Ini keẓōliman!", "Indonesia ini negara ḥukum!"… 😤 Tetiba para PENDAKU Salafiyy baru ingat kalau yang...

Apel, Jeruk, dan Logika Kepleset

Gambar
Perhatikan screenshot postingan terlampir. Idenya kira-kira begini: kalau USA yang mayoritas Naṣrōniyy bisa mengangkat pemimpin Muslim seperti Zohran Mamdani dan Abdul El-Sayed, maka IDN yang mayoritas Muslim mestinya juga bisa memilih pemimpin keturunan etnis China-Naṣrōniyy seperti a Hog, "bukan pemimpin Muslim seperti Anies". Katanya, itu baru "apples-to-apples". Fakta tentang USA-nya benar. Mamdani memang Muslim (Ṡīàh Rōfiḍoh)*¹ pertama yang terpilih menjadi wali kota New York*², sedangkan El-Sayed baru saja memenangkan kursi Senat Michigan setelah mengalahkan Mike Rogers*³. Namun logikanya kepleset di beberapa poin. Pertama, di ekor kalimatnya: "bukan pemimpin Muslim seperti Anies". Analogi USA paling jauh hanya mendukung kesimpulan bahwa IDN seharusnya terbuka pada pemimpin non-Muslim. Seolah-olah perbandingan baru sah disebut apple-to-apple kalau a Hog yang menang. Warga New York tak memilih Mamdani untuk menolak kandidat Naṣrōniyy. Kalau pelajarann...