Tone Deaf Social Apathy
Salah satu penyebab dari Revolusi Prancis (1789-1799) yang berdarah-darah adalah sikap tone deaf social apathy dari kaum bangsawan / aristokrat dan segelintir bourgeoisie kaya (misalnya fermier général atau pemungut pajak) terhadap penderitaan rakyat.
Ada kisah anekdotal yang dinisbatkan kepada Ratu Marie Antoinette, istri dari Raja Louis XVI, tentang betapa tone deaf-nya kaum bangsawan / aristokrat dan bourgeoisie kaya tersebut, yaitu ketika dikatakan oleh salah satu pengiringnya bahwa rakyat tak punya roti untuk dimakan, tetapi Marie Antoinette malah mengatakan: "Qu'ils mangent de la brioche" (terjemahan bebas: "Biarkan mereka makan brioche saja")*¹.
Kenapa jadi simbol tone deaf social apathy?
Brioche itu adalah roti yang diperkaya dengan mentega dan telur, yang bagi rakyat jelata pada saat itu tergolong makanan sangat mewah, sementara rakyat kebanyakan hanya makan roti kasar, itu pun sering tak terbeli. Andaikan perkataan itu benar, ia mencerminkan ketidakpedulian sembrono sang Ratu terhadap para petani yang kelaparan, atau pemahamannya yang buruk tentang penderitaan mereka. Jadi walaupun kisah tersebut hanyalah legenda, ia bertahan karena rakyat memang merasakan jurang ketidakàdilan sosial itu.
Adapun penyebab memburuknya perekonomian Prancis pada saat itu adalah resesi sejak pertengahan 1780-an, dikombinasikan dengan panen yang buruk (terutama pada 1788), sehingga menyebabkan tingginya pengangguran dan melonjaknya harga bahan makanan. Sementara istana tetap saja bergaya hidup mewah (dan membangun istana Versailles) walaupun negara sedang terlilit utang besar, antara lain akibat perang. Para bangsawan / aristokrat dan bourgeoisie kaya tetap saja melakukan pesta-pesta mewah dan bergaya hidup glamor dan hedonis, bebal terhadap penderitaan rakyat jelata.
Perkara ini jikalau kita merujuk kepada naṣṣ, maka memang begitulah Sunnatullōh kehancuran dari suatu negeri…
📌 Kata Allōh ﷻ di dalam firman-Nya:
وَإِذَآ أَرَدۡنَآ أَن نُّهۡلِكَ قَرۡيَةً أَمَرۡنَا مُتۡرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيۡهَا ٱلۡقَوۡلُ فَدَمَّرۡنَٰهَا تَدۡمِيرًا
(arti) _“Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup bermewah-mewah di negeri itu (agar menaati Allōh), akan tetapi apabila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu).”_*²
Sebagian ùlamā’ mufassir menafsirkan ayat suci tersebut sebagai Allōh ﷻ memerintahkan kepada manusia, terutama élite suatu negeri, untuk taat kepada-Nya. Namun, perintah tersebut justru malah dijawab dengan perbuatan kefāsiqkan, kemungkaran, dan gaya hidup hedonis. Akibatnya, negeri itu jadi berhak mendapatkan àzāb dari Allōh ﷻ.
Adalah ketetapan atau taqdir Allōh ﷻ bahwa Allōh memudahkan jalan bagi élite suatu negeri untuk melakukan kemungkaran yang memang mereka inginkan, lalu karena keẓōliman dan keserakahan mereka itu maka àzāb pun menjadi pantas untuk diturunkan atas mereka — dengan kata lain, Allōh ﷻ memang menjadikan orang-orang yang hidup hedonis itu sebagai penguasa, lalu mereka berbuat ma`ṣiyah, sehingga negeri itu dihancurkan.
Jadi kalau kita terus melihat postingan baru tentang bagaimana elité kekuasaan pamer kemewahan di akun Instagram "What Regimes Wear Today"*³, maka memang begitulah jalannya kehancuran suatu negeri…
…
📝 RUJUKAN
*¹ Kalimat ini sebenarnya berasal dari karya Jean-Jacques Rousseau, Les Confessions (Buku VI, ditulis sekitar 1765 dan terbit 1782), yang menyebutnya sebagai ucapan "seorang putri agung" tanpa nama, sementara Marie Antoinette masih kanak-kanak dan belum tiba di Prancis. Kisah yang dinisbatkan kepadanya ini pasti apokrif.
*² QS al-Isrō’ (17) ayat 16.
*³ https://www.instagram.com/cabinetcouture_season2/

Komentar
Posting Komentar