Korps Marechaussee te Voet

Pasukan Maréchaussée te Voet – atau lebih dikenal dengan nama: "Marsosé" – adalah pasukan paramiliter bayaran yang dibentuk pada masa Kolonial Hindia Belanda oleh KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger / Tentara Kolonial Kerajaan Belanda) tanggal 2 April 1890 (dan baru diterjunkan ke Aceh 20 April 1890) sebagai tanggapan taktis (counter-insurgency) terhadap perlawanan gerilya Mujahiddīn Atjeh. Pasukan ini tidak ada ikatan / kaitannya dengan korps Koninklijke Maréchaussée di negeri Belanda.

Adalah Henri Karel Frederik van Teijn (Gubernur Militer Atjeh), dan Kepala Staf-nya Joannes Benedictus van Heutsz serta pembantunya Hendrikus Colijn (yang kemudian menjadi Perdana Menteri Belanda) yang akhirnya berhasil menaklukkan sebagian besar dari wilayah Atjeh dengan mengikuti saran dari Dr Christiaan Snouck Hurgronje, yaitu antara lain dengan bersekutu dengan para Uleebalang yang sekuler dan para ùlamā’ yang mau diajak bekerja-sama (seperti: Oesman bin Jahja di Batavia yang mengeluarkan fatwa melarang rakyat untuk melawan Kolonial Belanda) untuk mengisolasi kaum perlawanan dengan basis mereka di daerah pedalaman. Pemerintah Kolonial Belanda menggunakan strategi perang counter-insurgency baru untuk melawan Mujahiddīn Atjeh, yaitu dengan mengerahkan unit-unit bersenjata ringan Marsosé – disebut bersenjata ringan karena menggunakan karaben (senapan berlaras pendek) dan kelewang sehingga memudahkan pergerakannya di pedalaman / hutan – dan menggunakan cara-cara keji "scorched earth" (bumi hangus).
 
Menariknya, pasukan Marsosé ini adalah terdiri dari etnis campuran, di mana 20% anggotanya adalah kulit putih, 60% adalah dari etnis Djawa-Madura, 9% dari etnis Ambon, 5% Sunda, dan sisanya etnis Melayu, Bali, dan Bugis. Ide pembentukan korps Marsosé ini berasal dari seorang kolaborator penjajah keturunan etnis Minang bernama Mohammad Sjarif yang mengusulkan ide tersebut kepada Gubernur Militer Belanda di Atjeh, Van Teijn.
 
Selanjutnya Van Heutsz menugaskan Gotfried Coenraad Ernst van Daalen untuk memimpin gerombolan Marsosé. Kelakuan gerombolan Marsosé ini sangat-sangat brutal dan sadis di mana mereka melakukannya dengan cara sistematis dan terstruktur. Mereka membumihanguskan begitu banyak desa di Atjeh, membunuhi ribuan orang, di antaranya terbukti membunuh 1.149 perempuan dan anak-anak (termasuk dalam pembantaian Kuta Reh pada tahun 1904). Total korban di sisi rakyat Atjeh adalah sekitar 50.000 s/d 60.000 tewas dan entah berapa ribu yang terluka. Kerusakan yang terjadi pada masyarakat di Atjeh itu menyebabkan lebih dari 10.000 orang mengungsi ke Malaysia.
 




Kesuksesan Van Heutsz dan gerombolan Marsosé-nya di Atjeh menyebabkan ia dianggap sebagai "pahlawan" di negeri Belanda, dan taktiknya menggunakan Marsosé kemudian digunakan untuk menaklukkan negeri-negeri yang masih merdeka di daerah lain seperti: Batak, Bali, Maluku, Borneo, dan Celebes antara tahun 1901 s/d 1920.
 
Para sejarawan, baik dari dalam maupun luar negeri, mencatat bahwa Marsosé ini adalah pasukan bayaran yang sangat efektif dan sangat berdarah dingin lagi keji. Walau kebanyakan dari mereka adalah etnis pribumi – hanya pimpinannya saja yang kulit putih – namun karena pelatihan khusus yang mereka terima, mereka yang sangat mengenal musuh mereka yaitu sesama pribumi itu tidak segan-segan dan tanpa rasa kasihan membunuh saudara mereka sendiri. Pasukan berbaju ungu ini dikenal sangat beringas kelakuannya terhadap sesama pribumi, namun kalau kepada kaum kulit putih, kaum Kolonial Belanda, mereka menjilat… sedangkan kalau kepada Taipan / Cukong / Bohir, mereka ini bersahabat dan ramah sekali…
 
Demikian kisah dari Zaman Old tentang gerombolan bayaran berbaju ungu bentukan Kolonial Belanda yang sangat beringas lagi berdarah dingin yang bernama Marsosé.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!

Tentang Nazar

Umbar Àib di Pengajian