Rakyat Itu Cerminan Pemimpinnya
Seorang pemimpin itu seharusnya menjadi standar moral, paling tidak di depan publik.
Kalau pemimpin dalam berpidato sudah mengeluarkan diksi semisal: "ndasmu, nyenyenye, bandjingan", maka jangan lagi berharap putra-putri negeri akan bertingkah laku halus.
Karena rakyat itu adalah cerminan dari pemimpinnya.
📍 Imām al-Buḳōriyy mencatat di dalam kitāb Ṣoḥīḥ-nya bahwa seorang perempuan bernama Zainab dari suku Aḥmas bertanya kepada Abū Bakar رضي اللـه تعالى عنه tentang keberlangsungan kejayaan Islām:
قَالَتْ : مَا بَقَاؤُنَا عَلَى هَذَا ٱلأَمْرِ ٱلصَّالِحِ ٱلَّذِي جَاءَ ٱللَّـهُ بِهِ بَعْدَ ٱلْجَاهِلِيَّةِ ؟ ؛ قَالَ : مَا ٱسْتَقَامَتْ بِكُمْ أَئِمَّتُكُمْ
(arti) _“(Zainab) Bertanya: "Berapa lama kita akan terus berada di atas urusan yang baik (Islām) ini setelah Allōh menyudahinya dari masa Jāhiliyyah?" ; (Abū Bakr) Menjawab: "Selama para pemimpin kalian istiqōmah (berada di jalan yang lurus) dalam memimpin kalian."”_ [lihat: al-Buḳōriyy no 3834].
📍 Saat pasukan kaum Muslimīn berhasil menaklukkan Persia, mereka membawa seluruh harta ġonīmah (rampasan perang) yang sangat melimpah dan berharga tinggi ke Madīnah, dan ketika Ḳolīfah Ùmar ibn al-Ḳoṭṭōb رضي اللـه تعالى عنه mendapatkan harta dalam keadaan utuh tanpa ada yang dikorupsi sedikit pun, maka Ùmar takjub dan memuji mereka. Mendengar hal itu, Àliyy ibn Abī Ṭōlib رضي اللـه تعالى عنه langsung menyahut dengan kalimat yang sangat ikonik:
عَفَفْتَ فَعَفَّتْ رَعِيَّتُكَ ، وَلَوْ رَتَعْتَ لَرَتَعُوا
(arti) _“Kamu telah menjaga diri (dari memakan harta yang ḥarōm), maka rakyatmu pun ikut menjaga diri. Seandainya kamu memanjakan dirimu (berbuat culas mengambil harta tersebut), niscaya mereka pun akan ikut memanjakan diri.”_ [lihat: Àbdur-Roḥmān ibn Abī Bakr as-Suyūṭiyy, Tārīḳ al-Ḳulafā’ hal 114; Ismāȉl ibn Ùmar ibn Kaṫīr ad-Dimaṡqiyy, al-Bidāyah wa an-Nihāyah jilid I hal 518].
📍 Imām Abū Àbdillāh Sufyān ibn Saȉd ibn Masrūq aṫ-Ṫauriyy رحمه اللـه تعالى berkata kepada Ḳolīfah Abū Ja`far Àbdullōh ibn Muḥammad ibn Àliyy al-Manṣūr:
إني لأعلم رجلاً إن صلح صلحت الأمة ، وإن فسد فسدت الأمة ؛ قال : ومن هو ؟ ؛ قال : أنت
(arti) _“"Sungguh aku mengetahui seseorang yang apabila orang itu baik, maka ummat akan menjadi baik. Sedangkan apabila orang itu rusak, maka ummat akan menjadi rusak." ; al-Manṣūr lalu bertanya: "Siapa dia?" ; Beliau menjawab: "Kamu!"”_ [lihat: al-Burhān fī Mā Yajibu àlā ar-Rōȉ wa ar-Roìyyah jil I hal 24].
📍 Ḳolīfah Ùmar ibn Àbdul-Àzīz ibn Marwān al-Umawiyy al-Quroṡiyy رحمه اللـه تعالى mengatakan:
تهلك العامة بعمل الخاصة ، ولا تهلك الخاصة بعمل العامة ، والخاصة هم الولاة
(arti) _“Masyarakat umum binasa karena perbuatan golongan khusus, sedangkan golongan khusus tidak binasa karena perbuatan masyarakat umum. Golongan khusus tersebut adalah para penguasa.”_ [lihat: al-Burhān fī Mā Yajibu àlā ar-Rōȉ wa ar-Roìyyah jil I hal 24].
📍 Imām Abū Ḥāmid Muḥammad ibn Muḥammad ibn Muḥammad al- Ġozālīyy aṭ-Ṭūsiyy رحمه اللـه تعالى mengatakan:
ففساد الرعايا بفساد الملوك ، وفساد الملوك بفسا العلماء ، وفساد العلماء باستيلاء حب المال والجاه
(arti) _“Maka kerusakan rakyat itu karena disebutkan karena kerusakan yang ada pada penguasa, dan rusaknya penguasa itu disebabkan karena rusaknya para ùlamā’, dan rusaknya para ùlamā’ itu karena mereka telah dikuasai oleh kecintaan pada harta dan kedudukan.”_ [lihat: Iḥyā’ Ùlūmud-dīn II/357].
Demikian.

Komentar
Posting Komentar