If You Have No Shame

Kemaren siang saya harus ke mall besar di Selatan Jakarta karena ada suatu keperluan yang membuat saya harus melewati beberapa resto dan café di mana saya menyaksikan cukup banyak perempuan berḥijāb yang makan siang atau duduk-duduk ngopi…


Membicarakan perkara ini sebenarnya membicarakan "adab", karena memang ada orang-orang yang memiliki keringanan (ruḳṣoh) secara Ṡarīàh untuk tak berpuasa (seperti karena: sakit, perjalanan jauh, serta ḥaiḍ & nifas bagi perempuan). Maka hendaknya kita kembalikan kepada kaum Muslimīn terbaik, yaitu para Ṣoḥābiyyah رضي اللـه تعالى عنهم, tentang ini…

Ternyata para Ṣoḥābiyyah رضي اللـه تعالى عنهم sangat menekankan pentingnya menjaga adab dan kehormatan bulan Romaḍōn agar tak menimbulkan fitnah atau menyinggung perasaan orang yang tengah menjalankan ìbādah. Berbicara tentang para Ṣoḥābiyyah رضي اللـه تعالى saat mereka sedang tidak berpuasa di bulan Romaḍōn —baik karena ḥaiḍ atau nifās— itu adalah berbicara tentang betapa tinggi ḥayā’ —rasa malu yang mencegah seseorang dari perbuatan tercela dan mendorongnya menjaga kehormatan diri— dan penghormatan mereka terhadap bulan Romaḍōn.

Bagi para Ṣoḥābiyyah, ḥaiḍ & nifās adalah perkara privasi, sehingga makan di depan umum saat orang lain berpuasa secara tidak langsung "mengumumkan" bahwa mereka sedang ḥaiḍ / nifās.

Para Ṣoḥābiyyah sangat menjaga agar kondisi khusus mereka agar tidak diketahui oleh laki-laki yang bukan maḥrom, bahkan terkadang di depan sesama anggota keluarga pun mereka tetap bersikap malu. Oleh karena itu, tak ditemukan riwayat yang menyebutkan mereka makan secara terang-terangan di depan umum.

Selain itu, ada prinsip "iḳfā-ul-fiṭr" (menyembunyikan keadaan berbuka) bagi yang memiliki ùżr yang ṡarìyy sehingga kalau mereka makan, mereka makan secara sembunyi-sembunyi demi ḥurmatul-ṡahr (menjaga kehormatan bulan Romaḍōn) dan menghindari fitnah, agar orang yang tak tahu ùzrnya tak berprasangka buruk (mengira mereka sengaja meninggalkan kewajiban).

Ṣoḥābat Àbdullōh ibn Masȕd رضي اللـه تعالى عنه mengatakan:

من أكل فليأكل سرا

(arti) _“Siapa saja yang makan (karena ada ùzr di bulan Romaḍōn), maka hendaknya ia makan secara sembunyi-sembunyi.”_ [lihat: Ibnu Abī Ṡaibah, al-Muṣonnaf fī al-Aḥādīṫ wal-Āṫār].

Memang ini perkara adab, tidak ada larangan yang tegas. Akan tetapi…

📌 Ada pesan dari para Nabiyyullōh yang pernah diutus terdahulu yang selalu diingat oleh manusia dari masa ke masa, yaitu:

إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

(arti) _“Jika kamu tak punya malu, maka berbuatlah sesukamu.”_ [HR al-Buḳōriyy no 3484, 6120; Ibnu Mājah no 4183; Aḥmad no 16470, 16485, 21314, 22170].

So, if you have no shame…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!

Membeli Karena Kasihan?

Selektif Dalam Mencari Guru – Sebuah Tinjauan