Right Time, Right Place, Right People
Pernah punya pengalaman di dalam sebuah WA Group, ada member yang posting temanya suka tidak pas, dan ia konsisten dengan hal itu?
Misalnya posting nasihat. Tidak ada yang salah dengan posting nasihat, semua orang butuh nasihat. Akan tetapi kalau itu diposting di group yang diperuntukkan untuk diskusi sosial-politik-keagamaan, dan isinya adalah para ustāż, rasanya ya bagaimana gitu…
Saya teringat sebuah pepatah bangsa Àrab: "لكل مقام مقال ولكل مقال مقام" yang apabila diterjemahkan secara harfiah, artinya adalah: "untuk setiap tempat (situasi) ada perkataannya, dan untuk setiap perkataan ada tempat (situasi)nya".
⚠ Pepatah ini mengajarkan kita tentang kearifan berkomunikasi yang intinya adalah kita harus menyesuaikan apa yang kita bicarakan dengan siapa kita berbicara dan di mana kita berada.
Jangan sampai salah menempatkan pembicaraan serius di suasana santai, atau sebaliknya. Karena setiap ide yang bagus sekalipun, tidak akan efektif jika disampaikan di waktu, tempat, dan audiens yang tidak tepat.
Ḳolīfah Àliyy ibn Abī Ṭōlib رضي اللـه تعالى عنه mengatakan:
حدثوا الناس بما يعرفون ، أتحبون أن يكذب اللـه ورسوله ؟
(arti) _“Berbicaralah kepada manusia dengan apa yang mereka ketahui. Apakah kalian ingin Allōh dan Rosūl-Nya didustakan (karena kesalahanmu menyampaikan —pent)?”_
Ṣoḥābat Àbdullōh ibn Masȕd رضي اللـه تعالى عنه mengatakan:
ما أنت بمحدث قوما حديثا لا تبلغه عقولهم إلا كان لبعضهم فتنة
(arti) _“Tidaklah kamu menyampaikan suatu pembicaraan (ìlmu) kepada suatu kaum, sedangkan àqal mereka tidak mampu mencapainya (memahaminya), melainkan hal itu akan menjadi fitnah (bencana/kebingungan) bagi sebagian mereka.”_
Kedua Ṣoḥābat Utama dari Baginda Nabiyy ﷺ itu memperingatkan bahwa untuk menyampaikan kebenaran pun harus disesuaikan dengan waktu, tempat, dan audiens-nya.
Maka, sebelum lisan atau jempol kita bergerak, ada baiknya kita menimbang keadaan. Prinsip ini bukan sekadar soal sopan santun di ruang digital, melainkan tentang kedalaman empati di dunia nyata. Contohnya adalah jika ada orang yang mau mencuri karena lapar, jangan dinasihati dulu tentang dosa mencuri. Tetapi cegahlah dengan memberi makan. Tanyakan "mengapa", dalami, lalu carikan solusi. Sering kali, seseorang melakukan kesalahan bukan karena jiwanya yang jahat, melainkan karena perutnya yang lapar sedang berteriak lebih keras daripada àqal sehat di benaknya.
Demikian, semoga bermanfaat.

Komentar
Posting Komentar