Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Logika Sungsang Sang Kiyai

Gambar
Berlalu postingan sesekiyai ini yang jelas sangat keliru secara logika dan fakta. ❓ Di mana kelirunya? Mari kita bahas… . ⑴. Generalisasi Menyesatkan Postingan tersebut adalah false dichotomy seolah-olah membagi Netijah hanya ke dalam 3 kotak sempit. Padahal faktanya, peta pemikiran Netijah Indonesia (IDN) itu jauh lebih beragam. Banyak penganut AswajaNU dan apalagi Wahhābiyy yang mendukung perjuangan Palestina tanpa harus mendukung ideologi politik Iran (IRN) secara penuh. Pun menentang agresi koloni pemukim illegal Yahūdiyy-Zionist (ISR) dan tukang pukulnya Amrik (USA) tidaklah otomatis membuat seseorang menjadi pendukung Ṡīàh Rōfiḍoh. Demikian pula mengkritik àqīdah Rōfiḍoh rezim IRN tidaklah otomatis menjadikan seseorang menjadi pendukung Zionisme. . ⑵. "Anti-Ṡīàh = Pro Zionisme" = Kebodohan Mendakwa bahwa "anti Ṡīàh = pro Zionisme" adalah narasi yang sangat sering digunakan untuk membungkam kritik terhadap kebijakan politik rezim penguasa IRN. Padahal faktanya ...

Tidak Semua Ṡiàh Kāfir?

Gambar
Mirisnya banyak yang nekad mengatakan bahwa "tidak semua Ṡīàh itu kāfir" atau "tidak semua Ṡīàh itu Rōfiḍoh", akan tetapi mereka tidak betul-betul tahu yang mana yang kāfir dan yang mana yang masih Muslim. Mana Ṡīàh yang bahkan Ahlus-Sunnah, dan mana Ṡīàh yang muslim tapi sesat karena Ahlul-Bidàh kelas berat. So, mari kita bedah satu-satu secara ringkas tentang apa-apa saja varian Ṡīàh yang umum ditemui / diketahui: . ⑴. Taṡayyu` Taṡayyu` dalam bahasa Àrab artinya "condong". Condong di sini bisa dalam 2 hal, yaitu mencintai dan mengutamakan Ahlul-Bait (keluarga Nabiyy ﷺ) di atas seluruh Ṣoḥābat lainnya, namun tetap mengakui keabsahan keḳolīfahan Abū Bakr, Ùmar, dan Ùṫmān رضي اللـه تعالى عنهم. Ada juga taṡayyu` yang condong dalam hal politik, yaitu secara politik berpihak kepada Àliyy ibn Abī Ṭōlib رضي اللـه تعالى عنه dalam konflik melawan Muȁwiyah رضي اللـه تعالى عنه, namun àqīdah dan praktek Rukun Islām mereka tetap persis sama dengan kaum Ahlus-Sunnah. M...

Ingatkan Siapa Majikan di Republik Ini!

Gambar
Pertama kali saya memasuki dunia kerja, before the turn of this century, saya mendengar nasihat dari boss saya, "You don't come to your boss with problem, you must also come with solution". Di situ saya diberi pemahaman, bahwa sebagai pegawai, saya dibayar oleh perusahaan untuk bekerja dan memberi solusi atas permasalahan. Kedudukan saya adalah PEKERJA alias "budak korporasi". Namun ketika ada BejatBad yang mengatakan hal yang sama, menuntut rakyat datang tidak hanya dengan masalah tapi dengan solusi, asli saya MUAK dengan para BejatBad itu. Bagaimana tidak? Apa para BejatBad lupa siapa yang sebenarnya "tuan" dalam hal ini? Rakyat itu adalah "tuan" di republik ini, sedangkan para BejatBad itu adalah "orang gajian". Namanya saja "civil servant". Iya, para BejatBad digaji oleh rakyat dari uang yang dikumpulkan dari pajak! Pajak itu adalah "biaya jasa" yang sudah dibayar di muka agar para BejatBad itu bekerja memiki...

Kritik MBG = Mencela Makanan?

Gambar
Berlalu so-called poster da`wah sebagaimana terlampir —tentunya dari kelompok mana lagi kalau bukan gerombolan PENDAKU Salafiyy yang beràqīdah Neo Murji-ah— yang membuat saya tertawa miris. Bagaimana tidak…? Argumen dalam poster tersebut adalah upaya depolitisasi agama, mencoba mengubah status "warga negara yang kritis" menjadi "penerima bantuan yang harus pasrah". Padahal, secara fiqh, rakyat memiliki hak untuk menuntut kualitas terbaik dari program penguasa yang didanai dari pajak yang mereka bayarkan. Jadi di dalam disiplin ìlmu uṣul, terdapat qoidah penting mengenai "تحقيق المناط" (arti: identifikasi konteks ḥukum). Kekeliruan dari pembuat poster tersebut terletak pada penempatan dalīl untuk pribadi ke dalam ranah kebijakan publik. . ⑴. Beda Antara "Żauq" (Selera Pribadi) vs "Ḥuqūq" (Hak Publik) Ḥadīṫ yang menyebutkan Baginda Nabiyy ﷺ tidak pernah mencela makanan (HR al-Buḳōriyy no 5409; Muslim no 2064) itu berkaitan dengan selera p...