Kenapa Terompah Berkeras Merampok Minyak Venezuela?
Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya yang berjudul "Ada Apa di Balik Aksi Kriminal Amrik di Venezuela?" — link: http://acadsyahrial.blogspot.com/2026/01/ada-apa-di-balik-aksi-kriminal-amrik-di.html
Mungkin ada yang memperhatikan bahwa status Amrik (USA) dalam perdagangan minyak dunia itu sering kali membingungkan, karena posisinya bisa berbeda tergantung pada kategori yang kita lihat.
🔴 Net Exporter ataukah Net Importer?
Secara keseluruhan, USA adalah Net Exporter (eksportir netto) untuk total produk petroleum, akan tetapi tetap menjadi Net Importer (importir netto) untuk crude oil (minyak mentah) saja.
Kenapa bisa begitu?
Sejak tahun 2020/2021, produksi total petroleum (minyak mentah / crude + produk olahan semisal bensin, diesel, jet fuel, dan gas alam cair) USA sudah jauh melampaui jumlah impornya. Di tahun 2025 saja, USA mengekspor lebih banyak daripada yang diimpor – walau memang untuk crude oil (minyak mentah) USA masih merupakan Net Importer.
.
🔴 Mengapa Terjadi "Paradoks" Ini?
USA memproduksi sekitar 13,6juta barrel crude per hari, lalu ada produksi NGPL (Natural Gas Plant Liquids — żat seperti Etana, Propana, dan Butana yang didapat dari sumur gas alam) sebesar equivalent 6,4juta barrel per hari, kemudian ada produksi Biofuel & Processing Gain (ketika kilang mengolah minyak mentah menjadi bensin, maka volumenya bertambah/mengembang mirip jagung yang jadi popcorn) sebesar equivalent 1juta barrel per hari. Jadi total petroleum product USA itu ≈ 21juta barrel per hari.
Adapun kebutuhan dalam negeri USA sendiri adalah ≈ 20juta barrel per hari.
Jadi kalau melihat realitas itu, tentu USA sebenarnya tak perlu mengimpor crude oil sampai 7 s/d 8juta barrel per hari.
Pertanyaan yang timbul adalah: jikalau produksinya begitu tinggi, kenapa masih impor?
Jawabannya ada pada infrastruktur kilang (oil refinery), yaitu: karena sebagian besar kilang minyak di USA (terutama di wilayah Gulf Coast) yang dibangun puluhan tahun lalu adalah untuk mengolah crude jenis "heavy sour" yang berasal dari lapangan di Venezuela (VEN), Meksiko (MEX), atau Kanada (CAN). Sementara jenis produksi domestik yang sekarang mayoritas adalah hasil fracking / shale yang jenis crude-nya "light sweet".
Jadi kilang minyak mereka sendiri tak bisa mengolah crude "light sweet" hasil sendiri, maka produsen minyak USA lebih memilih untuk mengekspor crude light sweet-nya ke Eropa dan Asia dengan harga premium, lalu mengimpor crude heavy sour yang jauh lebih murah (namun sesuai dengan spesifikasi kilangnya) untuk diolah dan dipasarkan di dalam negeri.
.
🔴 Kenapa Tak Ubah Kilangnya? Kok Malah Merampok?
Dikarenakan kilang-kilang minyak raksasa di Gulf Coast memang banyak yang dirancang khusus untuk crude heavy sour, sedangkan mengubah spesifikasi kilang-kilang raksasa itu membutuhkan investasi puluhan milyar USD dan waktu bertahun-tahun, yang mana itu hampir mustahil dilakukan dalam jangka pendek. Maka tentu saja USA butuh mengimpor crude heavy sour untuk kilang-kilang raksasanya.
Maka penguasaan atas cadangan minyak VEN (yang jenis crude-nya heavy sour) adalah langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor dari negara-negara lain (seperti CAN atau Timur Tengah). Itulah mengapa "merampok" ladang minyak di VEN adalah opsi yang instant dan jauh lebih murah bagi USA.
USA memang tak mencari minyak "bersih" dari VEN, mereka mencari bahan baku yang cocok untuk kilang-kilang raksasa mereka yang sudah ada. Jadi meskipun biaya ekstraksinya mungkin mahal, bagi kilang-kilang raksasa USA ini adalah cara untuk mendapatkan pasokan yang "pas" tanpa harus bergantung pada pasar minyak global.
Jadi tindakan merampok minyak VEN itu sebenarnya terkait dengan "National Energy Security". Jika minyak VEN dikelola langsung oleh perusahaan USA (seperti yang diumumkan oleh si Terompah), maka USA bisa mengamankan pasokan bahan baku untuk kilang-kilang mereka tanpa harus menggunakan sistem pasar global yang harganya fluktuatif.
Walau ada yang menyebut strategi merebut minyak ini "sudah usang" karena USA sudah jadi eksportir, dan juga karena dunia mulai beralih ke energi yang terbarukan, namun dalam kacamata Dedollarisasi, tindakan USA tersebut bukanlah soal kekurangan minyak, akan tetapi soal "Geopolitic Control".
Jadi meskipun secara bisnis murni (profit per barrel) berisiko, namun secara geopolitik, menguasai cadangan terbesar dunia adalah cara USA untuk memastikan sistem Petrodollar tak runtuh. USA lebih baik mengelola minyak yang "mahal" daripada membiarkan minyak tersebut dijual dalam Yuan atau Rubel oleh blok BRICS.
Terakhir, ada satu hal yang menggelitik yaitu walau kebijakan si Terompah mungkin terlihat seperti membela kepentingan nasional USA, akan tetapi sebenarnya ada konflik kepentingan antara perusahaan minyak raksasa (Big Oil Companies yang punya kilang-kilang raksasa) dengan pengebor domestik kecil di USA. Penangkapan Maduro memastikan Big Oil Companies mendapatkan akses ke crude heavy sour, meskipun itu mungkin mengorbankan harga minyak di dalam negeri USA.
Demikian, semoga bermanfaat.

Komentar
Posting Komentar