Ada Apa di Balik Aksi Kriminal Amrik di Venezuela?
Venezuela (VEN) di era Nicolas Maduro itu adalah pro-"Dedollarisasi" garis keras, bahkan menjadi pemimpin gerakan dedollarisasi di Amerika Latin.
Motivasi utamanya adalah tentu mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat (USA), dan tentu saja untuk menghindari sanksi ekonomi USA yang membekukan asset minyak mereka. Maduro secara aktif mempromosikan penggunaan mata uang alternatif dan bahkan sempat meluncurkan kripto negara bernama "Petro" (meskipun gagal secara luas).
Selain itu VEN juga berupaya keras untuk bergabung ke BRICS dan menjadi anggota penuh BRICS agar bisa menjual minyak mentah (crude)nya menggunakan mata uang non-USD, seperti: Renminbi / Yuan (CNY) atau Rubel (RUB). Namun, langkah ini sempat terhambat karena veto dari Brasil di akhir 2024 terkait isu sengketa pemilu domestik.
🔴 Mengapa banyak negara ingin meninggalkan USD?
Ada beberapa alasan ekonomi dan geopolitik yang mendorong hal ini, yaitu:
▫ "Weaponization" of the USD
Setelah konflik Russia (RUS) – Ukraina (UKR), USA membekukan cadangan devisa Russia dalam bentuk USD. Hal ini menjadi peringatan bagi banyak negara bahwa menyimpan asset dalam USD memiliki risiko politik — uang mereka bisa "dimatikan" kapan saja oleh Washington.
▫ Kebijakan Moneter The Fed
Ketika Bank Sentral USA (The Fed) menaikkan suku bunga, maka nilai USD menguat. Hal ini menyebabkan "impor inflasi" di negara berkembang karena harga barang (yang dihargai dalam USD) menjadi jauh lebih mahal dalam mata uang lokal.
▫ Utang Nasional USA
Banyak negara khawatir dengan tingginya utang pemerintah USA yang terus membengkak, yang mana itu dianggap bisa mengancam stabilitas nilai tukar USD dalam jangka panjang.
.
🔴 Strategi BRICS dalam Dedollarisasi
BRICS tak hanya sekadar protes, mereka sedang membangun infrastruktur alternatif:
▫ Local Currency Settlement (LCS)
Adanya kesepakatan untuk berdagang menggunakan mata uang masing-masing. Contoh: China (CHN) membeli minyak Saȕdiyy (SAU) dengan CNY, atau India (IND) membeli minyak RUS dengan dengan Rupee (INR).
▫ Alternative Clearing System
CHN mengembangkan CIPS (Cross-Border Interbank Payment System) sebagai alternatif dari Fedwire, CHIPS, dan SWIFT yang selama ini didominasi USA.
▫ BRICS Currency
Ada diskusi panjang mengenai pembuatan mata uang baru yang didukung oleh komoditas (semisal: emas, perak, atau rare earth minerals) untuk digunakan antar-anggota BRICS.
▫ Member Expansion
BRICS ingin memperluas keanggotaannya dengan memasukkan negara-negara produsen minyak besar seperti Àrab Saȕdiyy (SAU), Iran (IRN), dan Uni Emirat Arab (ARE) ke dalam BRICS untuk memperkuat posisi tawar blok ini dalam menetapkan harga minyak bukan dalam mata uang USD.
.
🔴 Akibatnya Dedollarisasi?
Akibat dari keinginan banyak negara untuk meninggalkan USD dan strategi BRICS yang dianggap agresif, maka USD terancam turun nilainya. Hal ini tentu sangat tidak diinginkan oleh USA.
Kenapa?
Ada 2 hal di sini:
🔘 Pertama, secara Ìlmu Ekonomi maka penggunaan satu mata uang tertentu (dalam hal ini USD) untuk transaksi komoditas vital seperti minyak memiliki dampak yang sangat signifikan, yaitu:
▫ Demand and Supply Law
Dalam Ìlmu Ekonomi, nilai sebuah mata uang ditentukan oleh permintaannya. Minyak mentah (crude) adalah komoditas yang paling penting karena paling banyak diperdagangkan di dunia.
Akibat dari itu maka permintaan akan USD akan menjadi konstan karena setiap negara di dunia, misalnya: Indonesia (ID), Jepang (JPN), Jerman (DEU), ingin membeli crude dari negara anggota OPEC, sedangkan OPEC hanya menerima USD, maka negara-negara tersebut wajib membeli USD terlebih dahulu di pasar valuta asing.
Akibat dari permintaan yang masif dan terus-menerus terhadap USD untuk membeli crude, maka akan menciptakan "base demand" yang menjaga nilai tukar USD tetap tinggi dan stabil dibandingkan mata uang lainnya.
▫ Reserve Currency Status of USD
Dikarenakan minyak bumi adalah kebutuhan primer bagi industri dan transportasi, maka Bank Sentral di seluruh dunia harus menyimpan cadangan devisa dalam bentuk USD dalam jumlah besar. Hal ini tentu akan mengakibatkan USD memiliki "exorbitant privilege":
⑴. Likuiditas yang tinggi, bahkan membuat USD menjadi mata uang yang paling likuid di dunia. Ini memungkinkan USA mencetak uang untuk membayar utang, hal yang tidak bisa dilakukan negara lain tanpa memicu krisis instan.
⑵. Keamanan, negara-negara merasa lebih aman memegang USD karena mereka tahu mata uang tersebut pasti bisa digunakan untuk membeli energi kapan saja dan dari mana saja.
▫ Petrodollar Recycling
Negara-negara pengekspor minyak anggota OPEC menerima USD dalam jumlah trilyunan, yang mana karena jumlahnya sangat besar, uang ini biasanya tidak hanya disimpan, tetapi diinvestasikan kembali.
Ke mana investasinya?
Ya tentu sebagian besar uang hasil penjualan minyak ini mengalir kembali ke USA dalam bentuk pembelian obligasi negara (US Treasury Bond) atau investasi di pasar saham di USA.
Siapa yang paling diuntungkan?
Ya tentu saja USA, sebab defisit APBNnya akan terbiayai dengan menjual surat utang (US Treasury Bond). Hal ini memungkinkan USA untuk menjalankan defisit anggaran yang besar karena selalu ada pembeli asing (negara eksportir minyak) yang siap meminjamkan uang kepada mereka. Karena besarnya aliran modal masuk ini maka ia menjaga suku bunga di USA tetap rendah, itu yang menyubsidi gaya hidup konsumtif warga USA.
🔘 Kedua, secara Geopolitik maka mata uang yang kuat secara permintaan pasar apalagi menjadi reserve currency akan memberikan kekuatan kontrol. Ketika seluruh transaksi minyak menggunakan USD, maka transaksi tersebut biasanya harus melewati sistem perbankan global yang terafiliasi dengan jaringan kliring & komunikasi perbankan USA (Fedwire, CHIPS, dan SWIFT).
Hal yang demikian tentu saja memberikan efek kontrol yang sangat kuat, yaitu: kemampuan bagi negara pemilik mata uang tersebut untuk memantau aliran dana global dan menerapkan sanksi ekonomi dengan cara memutus akses suatu negara terhadap mata uang tersebut.
Jadi dedollarisasi itu sangat berpengaruh, sebab jika OPEC secara kolektif berpindah ke mata uang lain (misalnya Yuan Digital atau mata uang lokal masing-masing), maka:
⑴. Permintaan USD akan anjlok, hal ini bisa menyebabkan depresiasi (penurunan nilai) USD secara tajam.
⑵. Inflasi di USA, sebab jika nilai USD jatuh maka harga barang-barang impor di negara pemilik mata uang tersebut akan melonjak.
Belum lagi akan ada pergeseran kekuatan karena dominasi ekonomi akan bergeser ke negara yang mata uangnya digunakan sebagai standar baru perdagangan energi tersebut.
Pada saat ini dunia memang sedang melihat tren dedollarisasi, di mana beberapa negara mulai mencoba bertransaksi minyak menggunakan mata uang lokal (seperti India dengan Russia atau China dengan Àrab Saȕdiyy) untuk mengurangi ketergantungan pada satu mata uang saja. Maka jika VEN yang memiliki proven oil reserve terbesar di dunia bergabung dengan BRICS, tentu akan menjadi pukulan telak bagi USA.
Makanya begitu USA melancarkan operasi kriminalnya menangkap Maduro & istri, Terompah langsung mengumumkan kalau minyak VEN akan dikelola oleh perusahaan USA. Apalagi secara kebijakan ada yang namanya "Monroe Doctrine" yang menjadi prinsip lama USA, di mana mereka menganggap Amerika Latin sebagai "halaman belakang" mereka yang tidak boleh dicampuri kekuatan luar (seperti pengaruh BRICS/Tiongkok).
Itulah "udang di balik bakwan"nya. Jadi ini bukan soal Maduro mendukung Palestina apalagi VEN melakukan penjualan narkoba ke USA. Tidak, karena semua tahu secara politik apalagi militer dukungan VEN terhadap Palestina itu tidak signifikan nilainya. Pun kapal tanker VEN yang membawa crude yang disita USA itu sama sekali tidak membawa narkoba (DEA sangat tahu hal itu, dan mereka pun mengakuinya) – sementara jelas-jelas penyitaan asset suatu negara secara sepihak oleh negara lain tanpa mandat PBB adalah pelanggaran kedaulatan!
Demikian, semoga bermanfaat.

Komentar
Posting Komentar