Muṣḥaf Ùṫmāniyy
Mengapa muṣḥaf al-Qur-ān yang dibaca oleh kaum Muslimīn saat ini disebut sebagai "Muṣḥaf Ùṫmāniyy"?
Jadi pada awalnya pengumpulan al-Qur-ān menjadi sebuah muṣḥaf dilakukan oleh Ṣoḥābat Zaid ibn Ṫābit ibn ad-Ḍoḥāk al-Anṣōriyy رضي اللـه تعالى عنه pada masa keḳolīfahan Abū Bakr aṣ-Ṣiddīq (Àbdullōh ibn Ùṫmān ibn Ȁmir al-Quroṡiyy) رضي اللـه تعالى عنه dikarenakan pertempuran besar di daerah al-Yamāmah (melawan nabiyy palsu Musailimah al-Każżāb) memicu kekhawatiran karena akibat banyak ṣoḥābat penghafal al-Qur-ān yang gugur di medan pertempuran. Ṣoḥābat Ùmar ibn al-Ḳoṭṭōb ibn Nufail al-Quroṡiyy رضي اللـه تعالى عنه mengusulkan pengumpulan ayat-ayat al-Qur-ān dalam bentuk kitāb agar tidak hilang kepada Ḳolīfah Abū Bakr. Awalnya Ḳolīfah Abū Bakr menganggap usulan tersebut adalah kebidàhan karena al-Qur-ān itu asalnya adalah "audio book" yang ditanamkan ke hati sanubari Baginda Nabiyy ﷺ oleh Allōh ﷻ melalui perantaraan Malak Jibrīl عليه السلام dan dihafalkan oleh para Ṣoḥābat رضي اللـه تعالى عنهم. Namun Allōh ﷻ melembutkan hati Abū Bakr sehingga Abū Bakr pun memanggil Zaid untuk melaksanakannya. Awalnya Zaid juga menolak karena menganggapnya sebagai sebuah kebidàhan, namun Allōh ﷻ melembutkan hati Zaid dan akhirnya Beliau pun mau melaksanakan dan memimpin tugas tersebut. Zaid lalu mengumpulkan ayat-ayat yang ditulis oleh para Ṣoḥābat di pelepah-pelepah qurma, di lempengan-lempengan batu, di lembaran-lembaran kulit, serta dari hafalan dari para Ṣoḥābat dengan metode verifikasi yang sangat ketat dengan setidaknya dua saksi memastikan untuk setiap ayatnya.
Naskah induk hasil pengumpulan tersebut lalu disimpan oleh Ḳolīfah Abū Bakr hingga Beliau wafat.
Setelah Abū Bakr wafat, naskah tersebut diserahkan kepada Ḳolīfah Ùmar ibn al-Ḳoṭṭōb, Beliau menyimpan dan menjaga naskah tersebut sepanjang masa pemerintahannya. Kemudian ketika Ùmar wafat, naskah tersebut dipercayakan oleh Ḳolīfah Ùṫmān ibn Àffān ibn Abī al-Ȁṣ al-Quroṡiyy رضي اللـه تعالى عنه kepada Ummul-Mu’minīn Ḥafṣoh bintu Ùmar al-Ḳoṭṭōb رضي اللـه تعالى عنها.
Ketika ekspansi wilayah Keḳolīfahan meluas hingga ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Armenia dan Azerbaijan memicu perselisihan di antara para prajurit Muslim mengenai perbedaan dialek dan cara membaca al-Qur-ān (seperti kita ketahui al-Qur-ān itu dibacakan oleh Baginda Nabiyy ﷺ kepada para Ṣoḥābat dalam 10 dialek Àrab), maka Ṣoḥābat Ḥużaifah ibnul-Yamān ibn Jābir al-Àbsiyy رضي اللـه تعالى عنه melihat potensi perpecahan ummat dan Beliau pun melaporkan hal itu kepada Ḳolīfah Ùṫmān ibn Àffān. Maka Ḳolīfah Ùṫmān pun kemudian meminjam naskah induk yang disimpan oleh Ummul-Mu’minīn Ḥafṣoh dan menugaskan kembali Zaid ibn Ṫābit bersama tim dari kalangan Quroiṡ untuk menyalin dan menyatukan bacaan ke dalam satu standar dialek Quroiṣ. Setelah penggandaan selesai, naskah asli dikembalikan kepada Ummul-Mu’minīn Ḥafṣoh, sedangkan salinan naskah standar tersebut dikirim ke berbagai pusat wilayah pemerintahan Islām.
Diketahui luas di kalangan ùlamā’ ahli sejarah bahwa naskah salinan yang dibuat Zaid dan tim-nya disebarkan ke 4 pusat wilayah Islām, yaitu: Madīnah (Muṣḥaf al-Imām, yang disimpan oleh Ḳolīfah Ùṫmān), Kūfah (Muṣḥaf al-Kūfah), Baṣroh (Muṣḥaf al-Baṣroh), dan Ṡām (Muṣḥaf aṡ-Ṡām). Namun ada beberapa riwayat ùlamā’ (seperti Imām Ùṫmān ibn Saȉd ibn Ùṫmān ad-Dāniyy al-Andalusiyy) yang menyebutkan bahwa total salinannya ada 5 hingga 7 buah, yang memperhitungkan tambahan naskah untuk Makkah, Yaman, dan Baḥroin. Setiap salinan naskah tersebut dikirim bersama seorang Ṣoḥābat penghafal al-Qur-ān yang bertugas sebagai pengajar (muqri’), sehingga masyarakat di daerah tersebut tak hanya menerima teks tertulisnya saja, tetapi sekaligus juga bimbingan lisan membacanya sesuai standar dialek Quroiṡ.
Ada satu hal penting kenapa muṣḥaf yang disebarkan pada masa Ḳolīfah Ùṫmān tersebut disebut dengan "Muṣḥaf Ùṫmāniyy", yaitu setelah penggandaan naskah standar selesai dikerjakan oleh Zaid ibn Ṫābit dan timnya, maka Ḳolīfah Ùṫmān memerintahkan untuk mengumpulkan dan memusnahkan sebagian besar catatan al-Qur-ān yang dibuat oleh para Ṣoḥābat yang beredar di masyarakat.
Kenapa hal itu dilakukan oleh Ḳolīfah Ùṫmān?
Karena naskah-naskah yang dibakar adalah muṣḥaf-muṣḥaf catatan pribadi milik sebagian Ṣoḥābat (seperti Muṣḥaf Ibnu Masȕd dan Muṣḥaf Ubayy ibn Ka`b) yang memiliki susunan surah yang berbeda, menggunakan dialek lokal tertentu, atau memuat catatan tafsīr pribadi di sela-sela ayat. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan potensi perpecahan ummat. Tanpa tindakan tegas itu dikhawatirkan perbedaan dialek dan susunan catatan pribadi akan memicu klaim bahwa naskah daerah tertentu lebih sah dibanding daerah lain.
Keputusan Ḳolīfah Ùṫmān itu tidak diambil secara sepihak, melainkan hasil dari musyawarah dan kesepakatan (ijmā`) para Ṣoḥābat senior di Madīnah. Bahkan Ḳolīfah Àliyy ibn Abī Ṭōlib رضي اللـه تعالى عنه pernah menegaskan bahwa jika Beliau berada di posisi Ùṫmān, maka Beliau akan melakukan hal yang sama demi menjaga kesatuan ummat.
Langkah Ḳolīfah Ùṫmān inilah yang menyatukan seluruh ummat Islām di berbagai wilayah di bawah satu rujukan teks al-Qur-ān yang seragam hingga saat ini.

Komentar
Posting Komentar